Tampilkan postingan dengan label GURU BERPRESTASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURU BERPRESTASI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2020

PERBEDAAN PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN

Terkadang orang salah mengartikan bahwa pengajaran juga adalah pendidikan, banyak dari masyarakat umum menganggap bahwa keduanya sama saja, padahal sudah jelas keduanya memiliki perbedaan yang jauh, sama halnya perbedaan antara mengajar dan mendidik.

Kali ini, untuk menjawab kesalahpahaman diatas, saya mencoba mencari referensi dari berbagai sumber tentang perbedaan dari keduanya dan inilah rangkuman perbedaan Pengajaran (Instruction) dan Pendidikan (Education).

  1. Pengajaran lebih menekankan pada penguasaan wawasan dan pengetahuan tentang bidang atau program tertentu seperti pertanian, kesehatan, enginering dan lain-lain sedangkan Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan manusia atau penanaman sikap dan nilai-nilai kehidupan dan budi pekerti luhur.
  2. Pengajaran hanya memakan waktu yang relatif pendek untuk suatu tujuan tertentu sedangkan Pendidikan memakan waktu yang relatif panjang.
  3. Metode Pengajaran lebih bersifat rasional, teknik, dan praktis. Semuanya dibuat mudah dipahami, terstruktur dan praktis dalam pengaplikasiannya, sedangkan METODE Pendidikan lebih bersifat psikologis dan pendekatan yang manusiawi.
Pada dasarnya Pengajaran dan Pendidikan dapat dibedakan namun dalam pengaplikasinnya sulit untuk dipisahkan. Jika keduanya berjalan sejalan dengan baik maka diapastikan output yang dikeluarkan mampu bersaing dalam dunia yang lebih luas. Misalnya:

Guru mengajar siswa menyusun jadwal belajar dirumah.

dalam konteks diatas, Pengajaran dan Pendidikan berjalan seiring. Hasil pengajarannya adalah siswa mampu membuat jadwal belajar di rumah dan hasil Pendidikannya adalah siswa mulai bisa mengatur jadwal belajarnya sehingga akan terbawa hingga besar untuk mematuhi aturan-aturan dan komitmen yang telah dibuatnya atau yang diberikan padanya.

Intinya, pengajaran dan pendidikan itu berbeda namun tidak bisa dipisahkan dalam pengaplikasiannya.

Sabtu, 25 April 2020

LANGKAH CERDAS MENJADI GURU BERPRESTASI

Sobat belajar semuanya, kali ini kita akan berbicara tentang Langkah Menjadi Grur Berprestasi. Seorang guru sejati berprestasi adalah harapan dunia pendidikan dan pilar tegaknya kemajuan bangsa.Guru sejati berprestasi adalah yang mampu mengabdi dengan penuh ketulusan, yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mentransfer ilmunya kepada peserta didik. Guru sejati berprestasi adalah yang mampu melihat, mendengar dan merasakan setiap kesulitan yang dihadapi anak didik. Ia tidak hanya mampu mengajar tetapi juga mampu mendidik dan memberi kasih sayang kepada anak didik. Dan guru sejati berprestasi adalah yang mampu menjunjung tinggi profesionalisme dan kualitas pengajarannya sebagai pendidik.

LANGKAH CERDAS BERPRESTASI

1. Luruskan niat, mantapkan tekad, wujudkan mimpi

“Pengabdian” merupakan satu makna dasar yang menjadi landasan bagi seorang guru untuk tak pernah berhenti mengajar dan membagikan ilmu kepada anak didiknya. Makna dari sebuah pengabdian adalah pijakan awal yang sangat penting bagi para guru dalam mendidik anak murid mereka, agar setiap guru mempunyai atau memiliki arah pijakan yang kuat, terarah, berdaya guna, dan mampu membantu mewujudkan apa yang menjadi cita-cita anak didiknya.

Niat yang lurus menjadi seorang guru aadalah kunci utama yang akan menentukan jalan keberhasilan. Jika seorang guru secara tulus mendasarkan tujuannya mendidik demi kepentingan anak didiknya, maka ia berada pada jalan yang tepat.

Guru sejati adalah yang mampu mengabdi dengan penuh ketulusan pada pendidikan anak didik. Guru sejati adalah guru yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya dalam mentransfer ilmunya, serta mampu melihat, mendengar dan merasakan setiap kesulitan yang dihadapi anak didik.

Luruskan niat, mantapkan tekad, dan laksanakan tugas serta kewajiban demi mewujudkan mimpi para laskar pelangi. Guru adalah kebanggaan kita semua.

2. Keberhasilan tidak terletak pada jabatan dan uang, tetapi pada orang yang mengerjakannya

Karakter dan sikap mental seseorang lebih menentukan keberhasilan ketimbang jabatan uangnya.Karena jabatan dan uang adalah bersifat kebendaan duniawi yang begitu fana dan rapuh, yang sewaktu-waktu bisa hilang atau rusak. Seseorang yang memiliki karakter dan sikap mental yang baik dan kuat terwujud dari sifat, sikap dan perilakunya yang dimasukkan dalam kategori positif, yaitu jujur, percaya diri dan dapat dipercaya, rendah diri, tangguh, ulet, optimis pantang menyerah, disiplin dan sebagainya.

Guru adalah cermin keteladanan bagi anak didiknya, maka pantulkan segala bentuk prestasi, kelebihan, kemampuan, kecerdasan, kebijaksanaan, kasih sayang dan segala bentuk pemahaman kepada anak didik anda dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati.

3. Pola pikir anda adalah cermin kualitas diri anda

Salah satu sifat dasar manusia adalah rasa untuk ingin tahu, yaitu keingintahuan terhadap sesuatu hal yang bisa memberikan pemahaman, bisa memberi kebahagiaan, kesenangan, keuntungan, keselamatan dan pemahaman lainnya.Pemahaman ini dimaksudkan untuk menekankan bahwa seorang guru harus belajar untuk mandiri dalam berfikir, menimbang, menarik kesimpulan, dan tidak terlalu banyak bergantung pada orang lain jika ingin menemukan makna sesungguhnya dari pengabdian seorang pendidik.

Setiap individu harus belajar berfikir sendiri. Semakin dini seseorang belajar mengembangkan pola pikirnya akan semakin bagus. Barang siapa suka berfikir, melatih mengembangkan pola pikirnya, maka dirinya akan menemukan tingkat keberhasilan lebih cepat.

Dalam proses pengembangan diri, seorang guru tidak bisa hanya sekedar belajar teori-teori dalam ruangan yang terbatas, melainkan ia haruslah berfikir tentang hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.Yang terpenting adalah bagaimana seorang guru harus berfikir secara mandiri, kreatif, inovatif, dan berkualitas.

4. Memahami orang lain

Bagi seorang guru, salah satu hal pertama yang perlu dipelajari tentang orang lain, dalam hal ini anak didiknya adalah bahwa mereka pada dasarnya sama seperti kita. Ada diantara anak didik yang kurang berani dalam melakukan sesuatu dari pada orang lain, ada yang tidak kenal takut, ada yang ramah, ada yang menaruh rasa tanggungjawab, ada yang pandai dan cerdas, bahkan ada yang lambat dalam belajar.

Ada baiknya kalau seorang guru sejak dini mau belajar menempatkan diri dalam keadaan sebagaimana yang terjadi pada anak didiknya, lalu menerima dia sebagaimana dia adanya dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Marilah kita memberikan dan mengabdikan diri kita kepada orang lain dengan membukakan hati kita lebar-lebar untuk orang lain dan anak didik kita.

5. Lakukan hal-hal yang produktif secara efektif dan efisien

Seorang guru harus mampu melaksanakan dan mengatur waktunya dengan baik.Ia harus mampu mengatur pekerjaannya dengan baik; mana pekerjaan yang perlu ditangani sendiri dan mana yang perlu ditangani dan didelegasikan kepada orang lain.Ia harus bisa menghargai apa yang perlu dihargai menurut skala prioritas.Seorang guru, sesibuk apapun harus selalu mengambil keputusan untuk menciptakan suatu rencana-rencana.Seorang guru harus selalu memulai hari-harinya dengan sesuatu dari hasil ciptaannya atau kemampuannya sendiri. Seorang guru harus mampu melakukan sesuatu secara efektif, efisien dan produktif, misalnya dalam hal belajar mengajar, mengembangkan kecerdasan anak didiknya dan mengembangkan profesionalitas sebagai guru atau hal-hal lainnya.

6. Komunikator yang baik adalah pemimpin yang hebat

Seorang bos berkata “lakukan!”

Tapi seorang pemimpin berkata

“Mari kit lakukan!”

Guru sejati adalah sosok seorang pemimpin yang menjadi teladan bagi anak didiknya. Guru sejati bukanlah seorang bos yang suka melarang dan memerintah. Guru haruslah menjadi seorang pemimpin yang mengarahkan peserta didiknya kearah perubahan yang positif dan menghasilkan para cendikiawan bangsa. Guru harus tampil sebagai pemimpin yang hebat, yang dalam artian mampu mengajak peserta didiknya melakukan segala sesuatu yang berdasarkan logika. Sebagai orang tua dilingkungan sekolah, seorang guru adalah layaknya orang tua bagi anak-anak di rumah, dengan tetap memperhatikan batas-batas norma dan kewajaran seorang guru.