Tampilkan postingan dengan label ILMU KOMUNIKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU KOMUNIKASI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Mei 2020

PROSES KOMUNIKASI SECARA SIRKULAR

PROSES KOMUNIKASI SECARA SIRKULAR : Dear readers, kembali kita membahas tentang salah satu proses komunikasi, setelah sebelumnya kita membahas tentang proses komunikasi secara linear. 

Nah, Sirkular sebagai terjemahan dari perkataan "circular" secara harfiah berarti bulat, bundar atau keliling sebagai lawan dari perkataan linear tadi yang bermakna lurus. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan prosessecara sirkular itu adalah terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator. Oleh karena itu ada kalanya feedback tersebut mengalir dari komunikan ke komunikator itu adalah "response" atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang ia terima dari komunikator. Konsep umpan balik ini dalam proses komunikasi amat penting, karena dengan terjadinya umpan balik komunikator mengetahui apakah komunikasinya itu berhasil atau gagal, dengan lain perkataan apakah umpan baliknya itu positif atau negatif. Bila positif ia patut gembira, sebaliknya jika negatif menjadi permasalahan, sehingga ia harus mengulangi lagi dengan perbaikan gaya komunikasinya sampai menimbulkan umpan balik positif. Dalam situasi komunikasi tatap muka komunikator akan mengetahui tanggapan komunikan pada saat ia sedang melontarkan pesannya. Umpan balik jenis ini dinamakan immediate feedback (umpan balik seketika atau umpan balik langsung).


Jika anda sedang berpidato, yakni berkomunikasi tatap muka, di saat itu pula anda mengetahui tanggapan komunikan anda terhadap gaya pidato anda dan pesan yang anda bahas. Apabila hadirin asyik mendengarkan, dan sekali-kali ada yang mengajukan pertanyaan, bertepuk tangan atau tertawa di kala ada yang mengesankan, itu pertanda umpan balik positif. Sebaliknya, di saat anda sedang berpidato, hadirin asyik mengobrol atau di antaranya tidak sedikit yang tertidur, itu pertanda umpan balik negatif. Umpan balik negatif ini bila tidak diwaspadai dapat menimbulkan akibat fatal, misalnya melempar anda dengan kotak minuman atau meneriaki anda agar turun dari mimbar. Situasi komunikan yang brutal seperti itu dalam "bahasa" komunikasi dinamakan dalam bahasa Prancis contagion mentate yang berarti wabah mental. Jika seorang saja tepuk tangan prang-orang lain mengikuti tepuk tangan. Jika seorang saja berteriak "Turuuuun!!!", orang-orang lainnya mengikuti berteriak seperti itu. Apabila anda mengalami situasi komunikasi seperti itu, anda benar-benar dipermalukan.  Oleh karena itu seseorang yang akan muncul sebagai komunikator, dalam situasi komunikasi apapun, lebih-lebih dalam bentuk pidato di hadapan khalayak massa agar melakukan perencanaan yang matang dalam rangka mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki yang seringkali tidak diduga sebelumnya. 

PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR

PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR : Dear readers, setelah sebelumnya kita mengenal beberapa jenis proses komunikasi, Seperti Proses Komunikasi Secara Sirkular, sekarang kita tiba pada proses komunikasi secara linear. Lalu, apa yang dimaksud dengan linear itu sendiri?



Nah, istilah linear sendiri mengandung makna lurus. Jadi proses linier berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus. Dalam konteks komunikasi proses secara linear adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. 

Komunikasi linear ini berlangsung baik dalam situasi komunikasi latap muka (face-to-face communication) maupun dalam situasi komuni­kasi bermedia (mediated communication). Komunikasi tatap muka, baik komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) maupun komunikasi kelompok (group communication) meskipun memungkinkan terjadinya dialog, tetapi adakalanya ber­langsung linear. Contoh untuk ini, seorang ayah yang sedang memberikan nasihat kepada anaknya pada waktu mana si anak diam seribu bahasa, atau direktur perusahaan yang sedang memarahi anak buahnya, atau jaksa sedang membacakan tuduhan terhadap terdakwa di gedung pengadilan.
 
Proses komunikasi secara linear umumnya berlangsung pada komu­nikasi bermedia, kecuali komunikasi melalui media telepon. Komunikasi melalui telepon hampir tidak pernah berlangsung linear, melainkan dialogis, tanya jawab dalam bentuk percakapan. Oleh karena komunikasi bermedia, khususnya media massa, yakni surat kabar, radio siaran, televisi siaran, dan film teatrikal, bersifat linear, maka para komunikator media massa, seperti wartawan, penyiar radio, reporter televisi, dan sutradara film, menunjukkan perhatiannya yang sangat besar terhadap masalah ini. Dengan perencanaan komunikasi (communication planning) yang saksama mereka berupaya agar pesan-pesan komunikasinya oleh khalayak sebagai komunikannya diterima secara inderawi (received) dan diterima secara rohani (accepted) dalam sekali penyiaran. Hal ini disebabkan para komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikan terhadap pesan-pesan komunikasi yang diterimanya itu.

Well, demikianlah artikel kami tentang Proses Komunikasi Secara Linear, semoga artikel kami ini dapat bermanfaat untuk anda.

Terimakasih sudah mampir dan membaca artikel kami tentang PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR :  sebelumnya kita mengenal beberapa jenis proses komunikasi, Seperti Proses Komunikasi Secara Sirkular.

THE COMMUNICATIVE APPROACH | TEACHING METHOD

THE COMMUNICATIVE APPROACH (1960s-2000s) : The Communicative Approach was originally developed by Tracy Terrell and Stephen Krashen, this acquisition-focused approach sees communicative competence progressing through three stages: 

(a) aural comprehension, 
(b) early speech production, and 
(c) speech activities, 

all fostering "natural" language acquisition, much as a child would learn his/her native tongue. Following an initial "silent period", comprehension should precede production in speech, as the latter should be allowed to emerge in natural stages or progressions. Lowering of the Affective Filter is of paramount importance. Only the target language is used in class now, introducing the "total immersion" concept for the very first time, with auditory input for the student becoming paramount.

Errors in speech are not corrected aloud. Now enters the era of glossy textbooks, replete with cultural vignettes, glossaries, vocabulary lists, and glazed photographs. A deliberate, conscious approach to the study of grammar is considered to have only modest value in the language learning process. Pairing off of students into small groups to practice newly acquired structures becomes the major focus. Visualization activities that often times make use of a picture file, slide presentations, word games, dialogues, contests, recreational activities, empirical utterances, and realia provide situations with problem-solving tasks which might include the use of charts, maps, graphs, and advertisements, all to be performed on the spot in class. Now the classroom becomes more student-centered with the teacher allowing for students to output the language more often on their own. Formal sequencing of grammatical concepts is kept to a minimum.

Since communication is a process, it is insufficient for students to simply have knowledge of target language forms, meanings, and functions. Students must be able to apply this knowledge in negotiating meaning. It is through the interaction between speaker and listener (reader and writer) that meaning becomes clear.

The Principles of the Communicative Approach

  1. The goals are to become communicatively competent, able to use the language appropriate for a given social context, to manage the process of negotiating meaning with interlocutors.
  2. Teacher facilitates students’ learning by managing classroom activities, setting up communicative situations. Students are communicators, actively engaged in negotiating meaning.
  3. Activities are communicative. They represent an information gap that needs to be filled. Speakers have a choice of what to say and how to say it. They receive feedback from the listener that will verify that a purpose has been achieved. Authentic materials are used. Students usually work in small groups.
  4. Teacher initiates interactions between students and participates sometimes. Students interact a great deal with each other in many configurations.
  5. Emphasis is on developing motivation to learn through establishing meaningful, purposeful things to do with the target language. Individuality is encouraged, as well as cooperation with peers which both contribute to sense of emotional security with the target language.
  6. Language is for communication. Linguistic competence must be coupled with an ability to convey intended meaning appropriately in different social contexts. Culture is the everyday lifestyle of native speakers of the target language.
  7. Functions are emphasized over forms with simple forms learned for each function at first, then more complex forms. Students work at discourse level. They work on speaking, listening, reading, and writing from the beginning.
  8. The students’ native language has no particular role in the communicative approach.
  9. A teacher evaluates not only his students’ accuracy, but also their fluency.
  10. Errors of form are tolerated and are seen as a natural outcome of the development of communication skills.
The Teaching Techniques Used in the Communicative Approach

1)      Authentic materials
2)      Scrambled sentences
3)      Language games
4)      Picture strip story
5)      Role-pay

Sabtu, 16 Mei 2020

PROSES KOMUNIKASI SECARA SEKUNDER

PROSES KOMUNIKASI SECARA SEKUNDER - Dear readers, dalam pembahasan kita sebelumnya kita sudah mengenal apa yang dimaksud dengan komunikasi dan juga proses komunikasi secara psikologis dan mekanistis. Nah kalo iini kita akan melangkah sedikit lebih jauh dengan membahas tentang PROSES KOMUNIKASI SECARA SEKUNDER. 


Apa yang dimaksud dengan PROSES KOMUNIKASI SECARA SEKUNDER? Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan. Dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. 


Disini, Komunikator menggunakan media kedua ini karena komunikan yang dijadikan sasaran komunikasinya jauh tempatnya atau banyak jumlahnya atau kedua-duanya, jauh dan banyak. Kalau komunikan jauh, diperguna-kanlah surat atau telepon; jika banyak dipakailah perangkat pengeras suara; apabila jauh dan banyak, dipergunakan surat kabar, radio atau televisi. 


Komunikasi dalam proses secara sekunder ini semakin lama semakin efektif dan efisien karena didukung oleh teknologi komunikasi yang semakin canggih, yang ditopang pula oleh teknologi-teknologi lainnya yang bukan teknologi komunikasi. Surat, misalnya sebagai media komunikasi sekunder yang pada mulanya terbatas sekali jangkauan sasarannya, dengan dukungan pesawat terbang jet, dapat mencapai komunikan di mana saja di seluruh dunia. Demikian pula media telepon, jika pada waktu ditemukan menggunakan kawat yang oleh sebab itu terbatas sekali wilayah jangkauannya, kini dengan radio telepon dapat mencapai, sasaran di kota lain, negara lain, dan benua lain. Televisi siaran dewasa ini yang dipadu dengan komputer menjadi semakin mempesona, baik dalam segi visualnya maupun audialnya, selain jangkauannya semakin jauh dan luas berkat inovasi satelit komunikasi dan antena parabola.  


Demikianlah yang dapat kami bagikan tentang  Proses komunikasi secara sekunder, semoga artikel ini bermanfaat untuk anda sekalian. GBU

PROSES KOMUNIKASI SECARA PRIMER: VERBAL & NONVERBAL | PRIMARY PROCESS COMMUNICATION

PROSES KOMUNIKASI SECARA PRIMER: VERBAL & NONVERBAL | PRIMARY PROCESS COMMUNICATION : Proses komunikasi secara primer (primary process) adalah proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu lambang (symbol) sebagai media atau saluran. Lambang ini umumnya bahasa, tetapi dalam situasi-situasi komunikasi tertentu lambang-lambang yang dipergunakan dapat berupa kial (gesture), yakni gerak anggota tubuh, gambar, warna, dan lain sebagainya. Dalam komunikasi bahasa disebut lambang verbal (verbal symbol) sedangkan lambang-lambang lainnya yang bukan bahasa dinamakan lambang nirverbal (non verbal symbol).

1) Lambang verbal

Dalam proses komunikasi bahasa sebagai lambang verbal paling banyak dan paling sering digunakan, oleh karena hanya bahasa yang mampu mengungkapkan pikiran komunikator mengenai hal atau peristiwa, baik yang konkret maupun yang abstrak, yang terjadi masa kini, masa lalu dan masa yang akan dalang. Kita dapat menelaah pikiran Socrates dan Aristoteles yang hidup ratusan tahun sebelum masehi, dari buku-buku berkat kemampuah bahasa. Dengan bahasa kita dapat mengungkapkan rencana kita untuk minggu depan, bulan depan, atau tahun dupan, yang tidak mungkin dapat dijelaskan dengan lambang-lambang lain. Bagaimana pentingnya bahasa dalam kehidupan manusia dipaparkan oleh Kong Hu Chu tatkala ia ditanya orang apa yang pertama-tama akan dilakukan manakala diberi kesempatan mengurus negara. Kong Hu Chu menegaskan bahwa yang pertama-tama akan ia lakukan adalah membina bahasa, sebab apabila bahasa tidak tepat, apa yang dikatakan bukan yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, maka yang mestinya dikerjakan, tidak dilakukan. Jikalau yang harus dilakukan terus-menerus tidak dilaksanakan, seni dan moral menjadi mundur. Bila seni dan moral mundur, keadilan menjadi kabur, akibatnya rakyat menjadi bingung, kehilangan pegangan. Masalah bagaimana seharusnya ketepatan bahasa untuk mengungkapkan suatu maksud tertentu, dijumpai ketika berkecamuknya Perang Dunia II yang lalu. Ketika Jepang diminta oleh sekutu (Amerika Serikat) agar menyerah menjawab dengan menggunakan perkataan "mokusatsu” maksudnya adalah "tidak memberikan komentar sampai keputusan diambil (with holding comment until a decision has been made) tetapi kata mokusatsu oleh Kantor Berita Domei diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi "ignore" yang berarti "tidak perduli". Miskomunikasi inilah antara lain yang menyebabkan Hirosima di bom atom dalam Perang Dunia tersebut. "Kata-kata dapat menjadi dinamit" kata Scott M. Cutlip dan Alien H.Center dalam bukunya "Effective Public Relations". Contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya bahasa dalam proses komunikasi. Bahasa mempunyai dua jenis pengertian yang perlu dipahami oleh para komunikator. Yang pertama adalah pengertian denotatif, yang kedua pengertian konotatif. Perkataan yang denotatif adalah yang mengandung makna sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang yang sama kebudayaannya dan bahasanya. Perkataan yang denotatiftidak menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan ketika diterpa pesan-pesan komunikasi. Sebaliknya apabila komunikator menggunakan kata-kata konotatif. Kata-kata konotatif mengandung pengertian emosional atau evaluatif. Oleh karena itu, dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan.

Kebebasan mimbar merupakan ungkapan yang konotatif, demikian pula kebebasan pers. Begitu juga perkataan demokrasi. Secara etimologis demokrasi berasal dari kata "demos" dan "cratein" yang berarti pemerintahan rakyat, tetapi bagi orang Amerika, Korea, Kuba, Indonesia, dan bangsa-bangsa lain, istilah demokrasi tadi bersifat konotatif, sebab masing-masing bangsa yang mengaku negaranya demokratis, penilaiannya berbeda; maka sistem pemerintahannya pun berbeda. Sehubungan dengan itu, ketika berkomunikasi komunikator harus mengguna-kan kalimat-kalimat dengan kata-kata denotatif. Apabila kata-kata konotatif tidak dapat dihindarkan, maka kata-kata bersangkutan harus diberi penjelasan, tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda antara komunikator dengan komunikan.

Khusus dalam komunikasi lisan, para pakar komunikator harus memperhatikan apa yang disebut oleh Casagrande : para-language yang barangkali dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi parabahasa. Yang dimaksudkan dengan parabahasa ini adalah berbagai hal yang mengiringi pengucapan kata-kata ketika seseorang berbicara atau berpidato, misalnya, gaya bicara, tekanan nada, volume suara, logat, dan lain sebagainya. Andaikata anda berada di suatu ruangan, lalu anda mendengar suara orang yang sedang bercakap-cakap, walaupun anda tidak melihatnya, anda akan dapat menerka suara itu dari seorang wanita atau laki-laki, anak atau dewasa, terpelajar atau tidak, Jawa atau Batak atau suku lain, dan lain sebagainya. Demikianlah masalah bahasa sebagai lambang verbal penyandang pikiran komunikator ketika ia menyampaikan pesannya kepada komuni­kan dalam proses komunikasi secara primer.

2)  Lambang Nonverbal

Seperti telah disinggung di muka lambang nonverbal adalah lambang yang dipergunakan dalam komunikasi, yang bukan bahasa, misalnya isyarat dengan anggota tubuh, antara lain kepala, mata, bibir, tangan, dan jari. Ray L Birdwhistell dalam bukunya "Introduction to Kinesics" telah melakukan analisis mengenai body communication. Dia mencoba untuk memberi rangka kepada "comprehensive coding scheme" bagi gerakan badan, seperti seorang linguistmelakukannya untuk bahasa lisan. Jika linguist menampilkan "phone" sebagai suara maka Birdwhistell mengetengahkan "kine" sebagai gerakan. Apabila linguist mengemukakan "phoneme", yakni sekelompok bunyi yang berubah-ubah, maka Birdwhistell mengemukakan "kinime", yaitu sebuah set gerakan yang berubah-ubah. Kalau linguist mencari "morpheme" yang mengandung pengertian, Birdwhistell menyelidiki "kinemort" serangkaian gerakan yang mengandung pengertian dalam konteks suatu pola yang lebih besar. Tahap seperti disebutkan di atas adalah microkinesics; lebih luas daripada itu adalah macrokinesics atau disebut juga social kinesics, di mana sebuah gerakan (act) - yaitu pola yang menyangkut lebih dari suatu area , akan bersangkutan dengan kerangka komunikasi yang lebih luas. Body communication atau non-verbal communication dalam bentuk gerak-gerik seperti disebutkan di atas banyak diteliti oleh para ahli. Ternyata banyak sekali gerakan yang sama mengandung arti yang berlainan, di antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Sebagai contoh: orang Toda di India Selatan sebagai tanda hormat menekankan ibu jarinya pada batang hidungnya, lalu melambaikan keempat jari lainnya ke depan. Gerakan seperti itu bagi bangsa lain - termasuk bangsa Indonesia - lain sekali artinya, yakni mengejek atau memperolok-olok. Termasuk komunikasi nonverbal ialah isyarat dengan menggunakan alat. Siapa yang tidak mengenal bedug sebagai alat komunikasi yang dipergunakan oleh kaum muslimin di Indonesia, atau bendera oleh para kelasi, atau asap oleh orang Indian, dan sebagainya. Para Ustadz di langgar-langgar sejak dahulu sampai zaman modern seperti sekarang ini menggunakan bedug untuk memberitahukan kepada kaum muslimin, bahwa saat untuk sembahyang sudah tiba. Para kelasi sudah terbiasa menggunakan bendera untuk pemberikan isyarat atau dengan alat telegrafi untuk jarak jauh atas dasar sistem Morse. Orang Indian sudah terbiasa pula melakukan komunikasi dengan menggunakan asap untuk memberitahukan sesuatu kepada teman-temannya yang berada di tempat jauh. Pada zaman modern seperti sekarang ini, alat untuk berkomunikasi dengan isyarat bersifat modern pula. Seorang pengendara mobil yang akan belok tidak perlu menjulurkan tangannya; cukup dengan menjawel schakelaar lampu richtingnya, maka dengan berkedip-kedipnya lampu merah di depan di belakang mobilnya, orang tahu bahwa ia akan berbelok. Demikian pula polisi lalulintas tidak perlu berdiri di bawah terik matahari tepat di perapatan jalan dengan menggunakan lampu setopan dengan warna merah, kuning, dan hijau, para pemakai jalan mengetahui kapan ia harus berhenti, kapan harus bersiap-siap, dan kapan boleh berjalan lagi.

Gambar adalah lambang lain yang dipergunakan dalam berkomunikasi nonverbal. Gambar dapat dipergunakan untuk menyatakan suatu pikiran atau perasaan. Dalam hal tertentu gambar bisa lebih efektif daripada bahasa. Tidak mengherankan, ada motto Tionghoa yang me­nyatakan bahwa gambar bisa memberi informasi yang sama dengan kalau diuraikan dengan seribu perkataan. Lambang gambar dalam proses komunikasi mengalami perkembangan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat dan kemajuan teknologi. Jika dahulu gambar itu ditulis, kemudian dicetak, kini dengan kamera foto bisa dipotret, bahkan dengan kamera film atau kamera video dapat diatur menjadi gambar hidup. Pada akhirnya, apabila gambar itu merupakan lambang untuk proses komunikasi secara primer, menjadi lambang untuk proses komunikasi secara sekunder. Demikian sekaligus mengenai lambang verbal dan nonverbal dalam proses komunikasi secara primer yang untuk efektifnya komunikasi seringkali oleh para komunikator dipadukan, misalnya dalam kuliah atau ceramah disajikan gambar, bagan, tabel, dan lain-lain sebagai ilustrasi untuk memperjelas.

PROSES KOMUNIKASI PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN MEKANISTIS

PROSES KOMUNIKASI PERSPEKTIF PSIKOLOGIS DAN MEKANISTIS : Dear readers, kami kembali lagi dan pada kesempatan ini kami akan membagikan artikel tentang Proses Komunikasi perepektif psikologis dan mekanistis. namun sebelum itu, mari kita kenal dahulu apa sih yang dimaksud dengan Komunikasi.

Komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komuni­kan. Proses komunikasi dapat dikategorikan dari dua perspektif, yaitu:

1.  Proses Komunikasi dalam Perspektif Psikologis

Proseskomunikasi perspektif ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika seorang komunikator berniat akan menyampaikan suatu pesan kepada komunikan, maka dalam dirinya terjadi suatu proses. Pesan komunikasi terdiri dari dua aspek, yakni isi pesan dan lambang. Isi pesan umumnya adalah pikiran, sedangkan lambang umumnya adalah bahasa. Walter Lippman menyebut isi pesan itu "picture in our head", sedangkan Walter Hagemann menamakannya "das Bewustseininhalte". Proses "mengemas" atau "membungkus" pikiran dengan bahasa yang dilakukan komunikator itu dalam bahasa komunikasi dinamakan encoding. Hasil encoding berupa pesan itu kemudian ditransmisikan atau dioperkan atau dikirimkan kepada komunikan. Kini giliran komunikan terlibat dalam proses komunikasi intrapersonal. Proses dalam diri komunikan disebut decodingseolah-olah membuka kemasan atau bungkus pesan yang ia terima dari komunikator tadi. Isi bungkusan tadi adalah pikiran komunikator. Apabila komunikan mengerti isi pesan atau pikiran komunikator, maka komunikasi terjadi. Sebaliknya bilamana komunikan tidak mengerti, maka komunikasi pun tidak terjadi.

2.   Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis

Proses Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis ini berlangsung ketika komunikator mengoperkan atau "melemparkan" dengan bibir kalau lisan atau tangan jika tulisan pesannya sampai ditangkap oleh komunikan. Penangkapan pesan dari komunikator oleh komunikan itu dapat dilakukan dengan indera telinga atau indera mata, atau indera-indera lainnya. Proses komunikasi dalam perspektif ini kompleks atau rumit, sebab bersifat situasional, bergantung pada situasi ketika komunikasi itu berlangsung. Adakalanya komunikannya seorang, maka komunikasi dalam situasi seperti itu dinamakan komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi, kadang-kadang komunikannya sekelompok orang"; komuni­kasi dalam situasi seperti itu disebut komunikasi kelompok; seringkali komunikannya tersebar dalam jumlah yang relatif amat banyak sehingga untuk menjangkaunya diperlukan suatu media atau sarana, maka komuni­kasi dalam situasi seperti itu dinamakan komunikasi massa.

Untuk jelasnya proses komunikasi dalam perspektif mekanistis dapat diklasifikasikan menjadi proses komunikasi secara primer dan secara sekunder.