Tampilkan postingan dengan label LINGUISTIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGUISTIK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2020

PEMBELAJARAN MEMBACA / BELAJAR BAHASA

PEMBELAJARAN MEMBACA
Mengingat keterampilan membaca merupakan suatu hal yang sangat penting maka sangat wajar pula apabila membaca dijadikan  sebagai suatu mata pelajaran di sekolah. Dalam kurikulum tradisional  di sekolah dasar sudah tercantum membaca sebagai salah satu mata pelajaran. Lengkapnya berisi tiga mata pelajaran  yakni membaca, menulis, dan berhitung. Walaupun kurikulum sering berubah dan berkembang, membaca sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa tetap hadir dalam kurikulum sekolah. 

Bahasa Indonesia sudah dijadikan sebagai suatu mata pelajaran dan diajarkan dari jenjang pendidikan paling rendah sampai ke jenjang  pendidikan teringgi. Membaca sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia diangkat sebagai salah satu pokok bahasan di SD, SLTP, dan SLTA.

Pengembangan keterampilan membaca tersebut pertama-tama dibebankan kepada guru bahasa Indonesia di sekolah dasar. Melalui pengajaran bahasa Indonesia, pokok bahasan membaca, guru harus mengarahkan siswanya agar dapat:

(a)  membaca atau melek huruf,
(b)  memahami pengertian dan peranan membaca,
(c)  memahami teori dasar membaca,
(d)  memiliki minat baca,
(e)  memiliki keterampilan membaca.

Melalui pokok bahasan membaca siswa mengenal, memahami, dan menghayati struktur bahasa mulai dari struktur yang terkecil sampai struktur yang terbesar (fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragaraf, dan wacana).

Jenis kegiatan membaca ada macam-macam. Namun yang terpenting di antaranya adalah kegiatan  membaca pemahaman. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang diikuti siswa semakin tinggi pula tuntutan penguasaan keterampilan tersebut. Aktivitas siswa dalam membaca pemahaman selalu mengacu kepada pengecekan pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Termasuk di dalamnya pemahaman kata, ungkapan, kalimat, isi paragraf, dan isi wacana dan akhirnya siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan.

Mengapa pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut guru dituntut untuk berusaha agar pengajaran bahasa Indonesia khususnya membaca disukai siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru  telah menguasai materi dan cara penyampaian materi guru  haarus sudah mengenal, memahami, menghayati, dan dapat menerapkan berbagai metode peembelajarn membaca.

BAHASA ADALAH SISTEM, VOCAL SYMBOL, ARBITRARY & KONVENSIONAL | SIFAT-SIFAT BAHASA

BAHASA ADALAH SISTEM, VOCAL SYMBOL, ARBITRARY & KONVENSIONAL | SIFAT-SIFAT BAHASA | Ketika mengambil mata kuliah Semantik, saya ditanyai oleh profesor saya "kamu sudah dengar salah satu sifat bahasa, yaitu bahasa adalah sistem. Menurut kamu apa sih yang dimaksud dengan Bahasa adalah Sistem?" Waduh, ditanya seperti itu langsung membuat jantung saya berdegup kencang, ditambah semua tatapan mata dalam ruang yang berkapasitas 40 orang menuju ke saya. Untungnya saya udah pernah membaca mengenainya sedikit, walaupun waktu itu materinya masih berbahasa Inggris akan tetapi saya mencoba untuk memahaminya.

Bahasa adalah Sistem, Simbol Vokal  (Vocal Symbol), Suka-suka (Arbitrary) dan Konvensional. Di sini kita akan membahas keempat sifat-sifat bahasa tersebut dengan pendekatan Mahasiswa.

1. Bahasa adalah SISTEM

Baiklah, Bahasa adalah sistem. Apa maksudnya? maksudnya adalah bahwa bahasa terbentuk dari komponen-komponen atau unsur-unsur yang saling berhubungan secara fungsional. Komponen-komponen Bahasa itu dimulai dari yang terkecil yaitu Phoneme, Syllable, Morpheme, Word, Phrase, Clause, Sentence, Paragraph dan Context. Komponen-komponen tersebut haruslah tersusun secara teratur dan berpola yang membentuk satu kesatuan yang utuh dan memiliki makna atau dapat disebut bermakna.

2. Bahasa adalah Simbol Vokal (Vocal Symbol)

Tidak ada bahasa jika tidak ada udara, karena udara yang kita hembuskan atau keluarkan dan kemudian diberikan hambatan atau perlakuan tertentu terhadapa angin yang dihembuskan itu akan menghasilkan bunyi yang berbeda dan bermakna. Coba kalian mencoba untuk berbicara tapi tanpa menghembuskan udara? pasti kalian tidak akan bisa tanpa adanya udara yang dihembuskan. Udara tadi yang kita hembuskan dan kemudian diberi perlakuan khusus atau hambatan tertentu yang menghasilkan makna itulah yang disebut dengan bahasa, merupakan Vokal yang kita hasilkan dengan udara yang diberi hambatan tertentu.

Sedangkan Symbol adalah sesuatu yang merujuk bukan pada dirinya sendiri tetapi pada yang lain. Bunyi yang kita hasilkan setelah memberikan hambatan atau perlakuan khusus pada udara yang kita hembuskan berbeda berdasarkan jenis hambatan yang diberikan. Supaya mudah maka diberi lambang untuk bunyi tertentu dengan hambatan tertentu. Lambang ini kemudian yang disebut dengan symbol.

Dan jika lambang atau symbol tidak merujuk pada dirinya sendiri melainkan pada yang lain, dan jika bahasa adalah sistem symbol maka bahasa juga tidak merujuk pada dirinya sendiri melainkan pada sesuatu yang lain. Sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa Bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat tutur manusia dengan cara memberikan perlakuan khusus pada udara yang kita hembuskan yang mengandung makna, tidak merujuk pada dirinya sendiri melainkan pada yang lain.


3. Bahasa Bersifat Arbitrary / Suka-suka

Bahasa yang Bersifat Arbitrary. Apa sih yang dimaksud dengan Arbitrary? Arbitrary jika kita menerjemahkannya (bukan mengartikan yahhh) kedalam bahasa Indonesia menjadi semena-mena, suka-suka. Loh apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa Bahasa itu bersifat semena-mena, suka-suka, sewenang-wenang, karena pemberian nama-nama terhadap sesuatu barang tertentu tidak memiliki aturan yang mengikat, hanya muncul secara suka-suka atau Arbitrary. Contohnya, untuk menamai suatu benda yang empuk yang digunakan manusia sebagai tempat duduk, bersandar dan bersantai. Kemudian diberi lambang bunyi /sofa/ bukan /tiran/, atau /jono/. Namun karena si penyebut pertama dengan santainya mengatakan atau memberi nama atau menyebut benda yang empuk itu dengan sofa secara suka-suka dia, maka jadilah benda yang empuk itu memiliki nama yang kemudian kita sebut juga /sofa/.


4. Bahasa Bersifat Konvensional

Konvensional itu sendiri berarti kesepakatan atau perjanjian. Pada postingan sebelumnya mengenai Bahasa Bersifat Arbitrary, dikatakan bahwa pemberian nama terhadap barang sesuatu tertentu bersifat arbitrary atau suka-suka, atau sewenang-wenang. Namun pemberian nama tersebut percuma jika tak ada kesepakatan bersama mengenai penggunaan kata itu. Apalah artinya kata itu jika tak disepakati bersama, karena kata tersebut akan digunakan secara bersama-sama. Walaupun pada dasarnya nama terhadap barang sesuatu tertentu semena-mena atau suka-suka pada awalnya, namun kemudian kata tersebut mulai dipakai secara bersama-sama, maka secara tidak langsung terjadi kesepakatan akan penggunaan nama tersebut. Jadi dari suka-suka menuju ke kesepakatan sehingga lahirlah kata baru tersebut.


Pusing yah??? Contohnya begini, si A melihat sesuatu benda yang hidup yang bisa terbang. Si A kemudian menyebutnya secara suka-suka bahwa itu adalah /barumo/, sedangkan temannya yaitu si B mengatakan /burung/. Kemudian si C dan si D serta si si yang lain lebih suka menyebutnya /burung/ seperti si B. maka terjadilah kesepakatan yaitu menamai yang terbang itu /burung/ sedangkan /barumo/ tidak digunakan karena tidak mendapat kesepakatan bersama, walaupun pada awalnya kedua kata itu dikatakan secara suka-suka saja.

Bagaimana? mudah-mudahan sobat Jufry semua bisa memahami artikel mengenai BAHASA ADALAH SISTEM, VOCAL SYMBOL, ARBITRARY & KONVENSIONAL | SIFAT-SIFAT BAHASA

CIRI TANDA LINGUISTIK DE SAUSSURE | LINGUISTIC SIGN THEORY BY FERDINAND DE SAUSSURE

CIRI TANDA LINGUISTIK DE SAUSSURE | LINGUISTIC SIGN THEORY BY FERDINAND DE SAUSSURE | Sahabat Jufry, kembali lagi kita berbicara mengenai Linguistik dan lagi-lagi kita masih membahas mengenai Linguistic Sign Theory atau Teori Tanda Bahasa milik Ferdinand De Saussure. Kalau sebelumnya saya udah posting mengenai Ferdinand De Saussure dan bukunya yang membahas dan berfokus pada teorinya sendiri yaitu Linguistics Sign Theory atau teori tanda bahasa, kini kita lanjutkan dengan melihat ciri-ciri dari theory of Linguistic Sign itu sendiri.

Ciri-ciri dari Tanda Linguistik (Linguistics Sign Theory) menurut De Saussure adalah :

  1. Tanda linguistik bersifat arbitrer, maksudnya, hubungan antara satu petanda/konsep dengan satu penanda/imaji bersifat kebetulan.
  2. Penanda (signifiant) dari suatu signe’ linguistique itu merupakan satu dimensi/merupakan satu garis satu perpanjangan.
  3. Signe’ linguistique mempunyai pergandaan yang tidak dapat dihitung. Dengan kata lain tanda linguistik jumlahnya tidak terbatas.

Metode yang sesuai untuk analisis linguistik menurut De Saussure adalah segmentasi dan klasifikasi. Dengan kedua metode ini seorang linguis akan menentukan pola-pola untuk mengklasifikasikan unit-unit yang dianalisis.

Ferdinand De Saussure disebut sebagai bapak linguistik modern karena pandangan-pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya ”Course de Linguistique Generale" (1916) yang memuat :

1.         Telaah sinkronik dan diakronik dalam studi bahasa.
2.         Perbedaan langue dan parole
3.         Perbedaan signifian dan signifie sebagai pembentuk signe linguistique
4.         Hubungan sintaqmatik dan hubungan asosiatif/paradigmatik.

Nah, Sahabat Jufry semua, kalo masih ada yang ditanyakan mengenai linguistik disampaikan saja di kotak komentar, ntar saya kunjungi ato lampirkan emailnya biar saya kirimin artikelnya saja. Oke...

Sabtu, 23 Mei 2020

PROSES KOMUNIKASI SECARA SIRKULAR

PROSES KOMUNIKASI SECARA SIRKULAR : Dear readers, kembali kita membahas tentang salah satu proses komunikasi, setelah sebelumnya kita membahas tentang proses komunikasi secara linear. 

Nah, Sirkular sebagai terjemahan dari perkataan "circular" secara harfiah berarti bulat, bundar atau keliling sebagai lawan dari perkataan linear tadi yang bermakna lurus. Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan prosessecara sirkular itu adalah terjadinya feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator. Oleh karena itu ada kalanya feedback tersebut mengalir dari komunikan ke komunikator itu adalah "response" atau tanggapan komunikan terhadap pesan yang ia terima dari komunikator. Konsep umpan balik ini dalam proses komunikasi amat penting, karena dengan terjadinya umpan balik komunikator mengetahui apakah komunikasinya itu berhasil atau gagal, dengan lain perkataan apakah umpan baliknya itu positif atau negatif. Bila positif ia patut gembira, sebaliknya jika negatif menjadi permasalahan, sehingga ia harus mengulangi lagi dengan perbaikan gaya komunikasinya sampai menimbulkan umpan balik positif. Dalam situasi komunikasi tatap muka komunikator akan mengetahui tanggapan komunikan pada saat ia sedang melontarkan pesannya. Umpan balik jenis ini dinamakan immediate feedback (umpan balik seketika atau umpan balik langsung).


Jika anda sedang berpidato, yakni berkomunikasi tatap muka, di saat itu pula anda mengetahui tanggapan komunikan anda terhadap gaya pidato anda dan pesan yang anda bahas. Apabila hadirin asyik mendengarkan, dan sekali-kali ada yang mengajukan pertanyaan, bertepuk tangan atau tertawa di kala ada yang mengesankan, itu pertanda umpan balik positif. Sebaliknya, di saat anda sedang berpidato, hadirin asyik mengobrol atau di antaranya tidak sedikit yang tertidur, itu pertanda umpan balik negatif. Umpan balik negatif ini bila tidak diwaspadai dapat menimbulkan akibat fatal, misalnya melempar anda dengan kotak minuman atau meneriaki anda agar turun dari mimbar. Situasi komunikan yang brutal seperti itu dalam "bahasa" komunikasi dinamakan dalam bahasa Prancis contagion mentate yang berarti wabah mental. Jika seorang saja tepuk tangan prang-orang lain mengikuti tepuk tangan. Jika seorang saja berteriak "Turuuuun!!!", orang-orang lainnya mengikuti berteriak seperti itu. Apabila anda mengalami situasi komunikasi seperti itu, anda benar-benar dipermalukan.  Oleh karena itu seseorang yang akan muncul sebagai komunikator, dalam situasi komunikasi apapun, lebih-lebih dalam bentuk pidato di hadapan khalayak massa agar melakukan perencanaan yang matang dalam rangka mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki yang seringkali tidak diduga sebelumnya. 

PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR

PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR : Dear readers, setelah sebelumnya kita mengenal beberapa jenis proses komunikasi, Seperti Proses Komunikasi Secara Sirkular, sekarang kita tiba pada proses komunikasi secara linear. Lalu, apa yang dimaksud dengan linear itu sendiri?



Nah, istilah linear sendiri mengandung makna lurus. Jadi proses linier berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus. Dalam konteks komunikasi proses secara linear adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal. 

Komunikasi linear ini berlangsung baik dalam situasi komunikasi latap muka (face-to-face communication) maupun dalam situasi komuni­kasi bermedia (mediated communication). Komunikasi tatap muka, baik komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) maupun komunikasi kelompok (group communication) meskipun memungkinkan terjadinya dialog, tetapi adakalanya ber­langsung linear. Contoh untuk ini, seorang ayah yang sedang memberikan nasihat kepada anaknya pada waktu mana si anak diam seribu bahasa, atau direktur perusahaan yang sedang memarahi anak buahnya, atau jaksa sedang membacakan tuduhan terhadap terdakwa di gedung pengadilan.
 
Proses komunikasi secara linear umumnya berlangsung pada komu­nikasi bermedia, kecuali komunikasi melalui media telepon. Komunikasi melalui telepon hampir tidak pernah berlangsung linear, melainkan dialogis, tanya jawab dalam bentuk percakapan. Oleh karena komunikasi bermedia, khususnya media massa, yakni surat kabar, radio siaran, televisi siaran, dan film teatrikal, bersifat linear, maka para komunikator media massa, seperti wartawan, penyiar radio, reporter televisi, dan sutradara film, menunjukkan perhatiannya yang sangat besar terhadap masalah ini. Dengan perencanaan komunikasi (communication planning) yang saksama mereka berupaya agar pesan-pesan komunikasinya oleh khalayak sebagai komunikannya diterima secara inderawi (received) dan diterima secara rohani (accepted) dalam sekali penyiaran. Hal ini disebabkan para komunikator tidak mengetahui tanggapan komunikan terhadap pesan-pesan komunikasi yang diterimanya itu.

Well, demikianlah artikel kami tentang Proses Komunikasi Secara Linear, semoga artikel kami ini dapat bermanfaat untuk anda.

Terimakasih sudah mampir dan membaca artikel kami tentang PROSES KOMUNIKASI SECARA LINEAR :  sebelumnya kita mengenal beberapa jenis proses komunikasi, Seperti Proses Komunikasi Secara Sirkular.

COMMUNITY LANGUAGE LEARNING | TEACHING METHOD

COMMUNITY LANGUAGE LEARNING (1960s-2000s) | Actually I have posted several kinds of Teaching Methods such as Suggestopedia, The Grammar Translation Method, The Silent Way, The Audio Lingual Method, and The Direct Method. So on this opportunity I am going to post about The Community Language Learning Method. The Community Language Learning takes its principle from the more general counseling-learning approach developed by Charles A. Curran. Students is considered as a ‘whole-person’ means that teachers consider not only their students’ feelings and intellect, but also have some understanding of the relationship among students’  physical reaction, their instinctive protective reaction and their desire to learn.

Therefore, a way to dealt with the students’ problems (fears) is for a teacher to become ‘language counselor’. By understanding students’ problems and being sensitive to them, it is believed can help students overcome their negative feelings and turn them into positive energy to further their learning.

It is designed to ease the learner into gradual independence and self-confidence in the target language. This is also known as the Counseling-Learning method. Curran's approach is beyond simply a methodical pedagogy, but is rather a veritable philosophy of learning which provides profound, even quasi-theological reflections on humankind! It encourages holistic learning, personal growth, and self-development. Learning a language is not viewed necessarily as an individual accomplishment, but rather as a collective experience, something to be disseminated out into the community at large at a later stage in the second-language acquisition process. Its basic premise can be found in the acronym SARD:  

  1. S = stands for security (to foster the student's self-confidence),  
  2. A = represents attention or aggression (the former an indication of the learner's involvement, the latter their frustration level),  
  3. R = equals retention and reflection (what is retained is internalized and ultimately reflected upon), and 
  4. D = denotes discrimination (the learner can now discriminate through classifying a body of material, seeing how one concept interrelates to another previously presented structure). Student "participants" are thus allowed to register abstracted grammar both peripherally and semi-consciously.


The Principles of Community Language Learning

  1. The goals are to learn language communicatively, to take responsibility for learning, to approach the task nondefensively, never separating intellect from feelings.
  2. Teacher acts as counselor, supporting students with understanding of their struggle to master language in often threatening new learning situation.
  3. Nondefensive learning requires six elements: security, aggression (students have opportunities to assert, involve themselves), attention, reflection (students think about both the language and their experience learning it), retention, and discrimination (sorting out differences among target language forms).
  4. Both students and teacher make decisions in the class. Sometimes the teacher directs action, other times the students interact independently.
  5. Teachers routinely probe for students’ feelings about learning and shows understanding, helping them overcome negative feelings.
  6. Language is for communication, a medium of interpersonal sharing and belonging, and creative thinking. Culture is integrated with language.
  7. At first, since students design syllabus, they determine aspects of language studied; later teacher may bring in published texts. Particular grammar, pronunciation points are treated, and particular vocabulary based on students’ expressed needs. Understanding and speaking are emphasized; reading and writing have a place.
  8. Use of native language enhances students’ security. Students have conversations in their native language and the target language translations of these become the text around which subsequent activities revolve. Instructions and sessions for expressing feelings are in native language and the target language is used progressively more.
  9. No specific means are recommended for evaluation, but adherence to principles is urged. Teacher would help students prepare for any test required by school, integrative tests would be preferred over discrete-point tests, self-evaluation would be encouraged, promoting students’ awareness of their own progress.
  10. Nonthreatening style is encouraged, modeling of correct forms.


The Teaching Techniques Used in Community Language Learning

  1. Tape-recording student conversation, that is, it is used to record student-generated language as well as given the opportunity for community learning to come about.
  2. Transcription, that is, the teacher transcribes the students’ tape-recorded target language conversation.
  3. Reflection on experience, that is, the teacher takes time during or after the various activities, gives the students the opportunity to reflect on how they feel about the language learning experience.
  4. Reflective listening, that is, the students relax and listen to their own voice speaking the target language on the tape.
  5. Human computer, that is, a student chooses some part of the transcript to practice pronouncing. She/he is in the control of the teacher when she/he tries to say the word or phrase.
  6. Small group tasks, that is, firstly the students are asked to make new sentences with the words on the transcript with their small group.  And the groups share the sentences they made with the rest of the class.

THE TPR METHOD: TOTAL PHYSICAL RESPONSE METHOD | TEACHING METHOD

THE TPR METHOD: TOTAL PHYSICAL RESPONSE METHOD | TEACHING METHODTHE TOTAL PHYSICAL RESPONSE (TPR) METHOD (1960s-2000s) : The Total Physical Response method is focusing on listening comprehension by considering from observation to how children acquire their mother tongue. A baby spends many months listening to the people around him. The child has the time to try to make sense out of the sounds he hears.
This approach, also known as TPR, was founded by James Asher. In this method, both language and body movement are synchronized through action responses and use of the imperative (direct commands).  TPR may be used in conjunction with some other methods involving psychoneuro kinetic techniques wherein the teacher gives a host of commands with the students  responding by “acting out” the command: “Stand up”, “Go to the door”, "Sit down", etc. Kinetic movement of the hands and arms is incorporated in lieu of rote memorization. Student speech is delayed until they feel comfortable enough to give other students commands too. TPR is very effective in teaching temporal states, personal pronouns, and other deep grammatical structures.

The Principles of the Total Physical Response Method

  1. The goals are to provide an enjoyable learning experience, having a minimum of the stress that typically accompanies learning a foreign language.
  2. The teacher gives commands and students follow them. Once students are ready to speak, they take on directing roles.
  3. Lessons begin with commands by the teacher and students demonstrate their understanding by acting these out. Teachers recombine their instructions in novel and often humorous ways, and eventually students follow suit. Activities later include games and skits.
  4. The method was developed principally to reduce the stress associated with language learning. Students are not forced to speak before they are ready and learning is made as enjoyable as possible, stimulating feelings of success and low anxiety.
  5. Oral modality is primary and culture is the lifestyle of native speakers of the target language.
  6. Grammatical structures and vocabulary are emphasized, imbedded in imperatives. Understanding precedes production. Spoken language precedes the written words.
  7. Method is introduced in students’ native language, but rarely used later in course. Meaning is made clear through actions.
  8. Teachers can evaluate students through simple observation of their actions. Formal evaluation is achieved by commanding a student to perform a series of actions.
  9. Students are expected to make errors once they begin speaking. Teachers only correct major errors and do this unobtrusively. Fine turning occurs later.
The Teaching Techniques Used the Total Physical Response Method

  1. Using commands to direct behavior, that is, the commands are given to get students to perform an action and the action makes the pace lively.
  2. Role reversal, that is, students command their teacher and their classmates to perform some actions. The students may speak longer, but should not be encouraged to speak until they are ready.
  3. Action sequence, that is, the teacher gives three connected commands and the students learn more and more of the target language, a longer series of connected commands can be given, which together comprise a whole procedure.
That's all we can share about TPR, hopefully our article will be a good reference to yours. Thankz

Selasa, 19 Mei 2020

PENGERTIAN DEFINISI REPRESENTATIF, DIREKTIF, EKSPRESIF, KOMISIF DAN DEKLARATIF

TINDAK TUTUR DAN JENIS-JENISNYA |  REPRESENTATIF, DIREKTIF, EKSPRESIF, KOMISIF DAN DEKLARATIF - Pada postingan sebelumnya sudah saya bagikan tentang apa yang dimaksud dengan tindak tutur menurut para ahlinya (bukan pendapat saya loh… itu yang ahli punya so… gak usah ragu), dan juga beberapa jenis tindak tutur berdasarkan Austin (1962) dalam How to do Things with Words. Nah… sekarang saya ingin membagikan jenis tindak tutur tutur yang dikembangkan oleh Searle (1975).

Nah, selanjutnya Searle (1975) mengembangkan teori Tindak Tutur dan membaginya menjadi lima jenis Tindak Tutur  (dalam Ibrahim, 1993: 11-54). Kelima Tindak Tutur itu sebagai berikut:

1. Tindak Tutur representatif

yaitu Tindak Tutur yang mengikat P-nya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya, misalnya menyatakan, melaporkan, menunjukkan, dan menyebutkan.

2. Tindak Tutur direktif

yaitu Tindak Tutur yang dilakukan si Penuturnya dengan maksud agar si pendengar atau Mitra Tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu, misalnya menyuruh, memohon, menuntut, menyarankan, dan menantang.

3. Tindak Tutur ekspresif

yaitu Tindak Tutur yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi mengenai hal yang disebutkan di dalam ujaran itu, misalnya memuji, mengucapkan terima kasih, mengritik, dan mengeluh.

4. Tindak Tutur komisif

yaitu Tindak Tutur yang mengikat Penuturnyanya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya, misalnya berjanji dan bersumpah.

5. Tindak Tutur deklaratif

yaitu Tindak Tutur yang dilakukan Penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru, misalnya memutuskan, membatalkan, melarang, mengizinkan, dan memberi maaf.

Sekali lagi, baca artikel kami sebelumnya tentang TIndak Tutur Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi DI SINI. Dan semoga artikel yang kami bagikan kali ini tentang Jenis-Jenis Tindak Tutur (REPRESENTATIF, DIREKTIF, EKSPRESIF, KOMISIF DAN DEKLARATIF ) bermanfaat untuk anda.

PENGERTIAN DEFINISI TINDAKTUTUR - SPEECH ACT MENURUT KRIDALAKSANA DAN RICHARDS

PENGERTIAN DEFINISI TINDAKTUTUR - SPEECH ACT MENURUT KRIDALAKSANA DAN RICHARDS - Dear readers, setelah sebelumnya kita membahas tentang Tuturan Performatif dan Konstatif, maka kali ini kita coba kembali untuk melihat Definisi atau Pengertian tentang Tindak Tutur atau yang biasa disebut SPeech Act. Berikut ini kami ambil dari pengertian yang disampaikan oleh Kridalaksana dan Richard dkk.

Menurut Kridalaksana, 1984: 154, Tindak tutur adalah pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar ().

Sedangkan menurut Richards et al, 1989: 265, Speech act is an utterance as a functional unit in communication.

Well, Ketika seseorang menurutkan sesuatu atau mengeluarkan atau mengucapkan kata-kata, tidak hanya kata-kata yang disampaikan, akan tetapi di dalam pengucapan kalimat ia juga “menindakkan/mengerjakan/melakukan” sesuatu.

Berikut ilustrasi singkatnya:

Sepasang suami istri bertamu di rumah tetangganya, dan kemudian ia berkata "sekarang jam berapa?" atau "ini sudah malam yeah" nah disini, mereka tidak hanya mengharapkan jawaban tentang jam atau sekedar jawaban "ya", tetapi juga segera bertindak untuk bersegera meninggalkan rumah tersebut.

Hal-hal yang dapat ditindakkan atau dilakukan di dalam berbicara antara lain:

permintaan (requests)
pemberian izin (permissons)
tawaran (offers)
ajakan (invitation)
penerimaan akan tawaran (acceptation of offers)

Demikianlah yang dapat kami sharingkan kali ini, semoga dapat dipahami dan dimengerti.

Senin, 18 Mei 2020

PENGERTIAN DEFINISI TUTURAN PERFORMATIF | TUTURAN KONSTATIF MENURUT PARA AHLI

Pengertian Tuturan Performatif dan Konstatif Menurut para Ahli - Dear readers, dalam pembahasan kita kali ini kita akan membahas tentang Pengertian atau Definisi dari tuturan performatif dan konstatif menurut para ahli. Namun kita kenal lebih dahulu apa yang dimaksud dengan Tuturan.

Tuturan (utterance, oleh Kridalaksana disebut dengan istilah ujaran) adalah:
1.      regangan wicara bermakna di antara dua kesenyapan aktual atau potensial,
2.      kalimat atau bagian kalimat yang dilisankan (Kridalaksana, 1984: 2001).

Intinya: bahasa pada umumnya sebagai alat komunikasi, tetapi sebenarnya ada tindakan tertentu yang baru dapat terlaksana kalau orang itu mengemukakan tuturan/bahasa. Dengan demikian bahasa bukan semata-mata alat untuk menyatakan sesuatu tetapi juga melakukan sesuatu.

Filosof J.L. Austin membedakan antara tuturan performatif (performative) dan konstatif (constative).

Definisi:

Tuturan performatif (performative utterance) adalah tuturan yang memperlihatkan bahwa suatu perbuatan telah diselesaikan pembicara dan bahwa dengan mengungkapkannya berarti perbuatan itu diselesaikan pada saat itu juga; misalnya: dalam ujaran Saya mengucapkan terima kasih, pembicara mengujarkannya dan sekaligus menyelesaikan perbuatan “mengucapkan” (Kridalaksana, 1984: 2001). Performative (in speech act theory): an utterance which performs an act, such as Watch out (=a warning), I promise not to be late (= a promise). ((Richards dkk., 1989: 212). Secara ringkas dikatakan pula bahwa tuturan performatif adalah tuturan untuk melakukan sesuatu (perform the action).

Tuturan performatif  tidak dievaluasi sebagai benar atau salah, tetapi sebagai tepat atau tidak tepat, misalnya: I promise that I shall be there (Saya berjanji bahwa saya akan hadir di sana) dan performatif primer atau tuturan primer I shall be there (Saya akan hadir di sana) (Geoffrey Leech (terjemahan), 1993: 280).

Contoh lain:
  1. Saya berterima kasih atas kebaikan Saudara. (Tindakan berterima kasih: the act of thanking)
  2. Saya mohon maaf atas keterlambatan saya. (Tindakan mohon maaf: the act of apologizing).
  3. Saya namakan anak saya Parikesit. (Tindakan memberi nama: the act of naming).
  4. Saya bertaruh Mike Tyson pasti menang. (Tindakan bertaruh: the act of betting).
  5. Saya nyatakan Anda berua suami-isteri. (Tindakan menyatakan/menikahkan: the act of marrying).
  6. Saya serahkan semua harta saya kepada anak saya. (Tindakan menyerahkan: the act of bequeting).
  7. Saya akan pergi sekarang. (Tindakan pergi: the act of going).
Ciri-ciri tindakan performatif

1.      Subyek harus orang pertama, bukan orang kedua atau ketiga.
2.      Tindakan sedang/akan dilakukan

Kalau dalam bahasa Inggris, subjek orang pertama dan kala-nya present tense.

Austin dalam menentukan ciri-ciri tuturan performatif ini hanya melihat aspek gramatikalnya saja. Akhirnya direvisi (dilengkapi) oleh murid-muridnya, yaitu dengan adanya syarat-syarat lainnya yang disebut syarat tuturan performatif (felicity condition). Syarat-syarat itu antara lain:

  1. Orang yang menyatakan tuturan dan tempatnya harus sesuai atau cocok. Misalnya: Saya nyatakan Anda berdua suami-isteri. Penuturnya adalah penghulu (naib), pendeta, rama,  tempatnya di KUA, Gereja, Pura, Masjid,  objeknya 2 orang (berdua).
  2. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguholeh penutur. Misalnya: Saya mohon maaf atas kesalahan saya. Harus diucapkan sungguh-sungguh, tidak dengan tindakan menginjak kaki mitra tutur-nya.
Syarat itu juga belum cukup, kemudian diperbaharui lagi oleh John Searle, sebagai berikut:

  1. Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh dalam mengemukakan tuturannya. Misalnya: Saya berjanji akan setia padamu. (the act of promising).
  2. Penutur harus yakin bahwa ia mampu melakukan tindakan itu. atau mampu melakukan apa yang dinyatakan dalam tuturannya. Misalnya: Sesuk kowe tak-tukokke sepur (yakin tidak, kalau tidak berarti bukan tuturan performatif).
  3. Tuturan harus mempredikasi tindakan yan g akan dilakukan, bukan yang telah dilakukan. Misalnya: Saya berjanji akan setia.
  4. Tuturan harus mempredikasi tindakan yang akan dilakukan oleh penutur, bukan oleh orang lain. Misalnya: Saya berjanji bahwa saya akan selalu datang tepat waktu.
  5. Tindakan harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh kedua belah pihak. Misalnya: Aku njaluk pangapura marang sliramu, tumindakku kang ora ndadekake renaning penggalihmu. (Orang perta dan kedua melakukan tindakan secara sungguh-sungguh).
  6. Kalau tuturan tidak memenuhi kelima syarat tersebut, maka tuturan itu dikatakan tidak valid (infelicition).

Tuturan konstatif atau deskriptif (constative utterance) merupakan tuturan yang dipergunakan untuk menggambarkan atau memerikan peristiwa, proses, keadaan, dsb. dan sifatnya betul atau tidak betul (Kridalaksana, 1984: 2001)., atau Austin mengatakan bahwa tuturan konstatif dapat dievaluasi dari segi benar-salah (Geoffrey Leech (terjemahan), 1993: 316).
Misalnya:
1.       Ali pergi ke Jakarta
2.       Saya tidur di hotel.

A constative is an utterance which assert something that is either true or false; for example, Chicago is in the United States (Richards dkk., 1989: 212-213).

Tinjauan Pustaka:

Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. (ed. J.O. Urmson). New York: Oxford University Press.
Harimurti Kridalaksana. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Leech, Geoffrey. (Terjemahan M.D.D. Oka). 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Richards, Jack dkk. 1989. Longman Dictionary of Applied Linguistics. Longman: Longman Group UK Limited.
Searle, John. 1969. Speech Acts. Cambridge: Cambridge University Press.
Demikian artikel kami kali ini tentang Pengertian Tuturan Performatif dan Konstatif Menurut para Ahli, semoga artikel ini bermanfaat buat saudara sekalian, dan mohon berikan feedback kepada kami  untuk memperbaiki artikel kami selanjutnya.

PENGERTIAN DEFINISI PRAGMATIK MENURUT PARA AHLI - PENGERTIAN SEMANTIC

PENGERTIAN DEFINISI PRAGMATIK MENURUT PARA AHLI - PENGERTIAN SEMANTIC | DEFINISI PRAGMATIK MENURUT PARA AHLI - Hadir kembali di sini dengan materi yang baru, dan yah... lumayan lah agak berat. Artikel ini sebenarnya adalah hasil oretan sahabat saya dikampus, and dia nitip agar artikel ini dipublikasikan demi membantu kawan-kawan mahasiswa lain yang mungkin sangat membutuhkan artikel ini. artikel ini berjudul "Definisi Pragmatik" atau "Pengertian Pragmatik", jadi hanya mengenai definisi atau pengertian tentang pragmatik saja.

Ini adalah beberapa definisi Pragmatik seperti yang disampaikan oleh para ahli para ahli:

1. studies meaning in relation to speech situation (Leech, 1983).

2. cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana satuan kebahasaan digunakan dalam komunikasi (Wijana, 1996: 2).

      
Sebenarnya masih banyak para ahli yang mendefinisikan tentang apa itu Pragmatik, namun Levinson (1987: 1-53), kemudian memberikan batasan-batasan untuk pragmatik dan bahka ia sampai menguraikannya dalam  53 halaman bukunya dan itu hanya untuk menerangkan apakah pragmatik itu dan apa saja yang menjadi cakupannya. Di sini dikutipkan beberapa di antaranya yang dianggap cukup penting oleh Levinson:

  • Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan penafsirnya, sedangkan semantik adalah kajian mengenai hubungan antara tanda (lambang) dengan objek yang diacu oleh tanda tersebut.
  • Pragmatik adalah kajian mengenai penggunaan bahasa, sedangkan semantik adalah kajian mengenai makna.
  • Pragmatik adalah kajian bahasa dan perspektif fungsional, artinya kajian ini mencoba menjelaskan aspek-aspek struktur linguistik dengan mengacu ke pengaruh-pengaruh dan sebab-sebab nonlinguistik.
  • Pragmatik adalah kajian mengenai hubungan antara bahasa dengan konteks yang menjadi dasar dari penjelasan tentang pemahaman bahasa.
  • Pragmatik adalah kajian mengenai deiksis, implikatur, praanggapan, tindak tutur, dan aspek-aspek struktur wacana.
  • Pragmatik adalah kajian mengenai bagaimana bahasa dipakai untuk berkomunikasi, terutama hubungan antara kalimat dengan konteks dan situasi pemakaiannya.

Selain itu, Stephen C. Levinson telah mengumpulkan sejumlah batasan pragmatik yang dapat dirangkum seperti berikut ini:

  • Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan penafsir (Morris, 1938:6). Teori pragmatik menjelaskan alasan atau pemikiran para pembicara dan penyimak dalam menyusun korelasi dalam suatu konteks sebuah tanda kalimat dengan suatu proposisi (rencana, atau masalah). Dalam hal ini teori pragmatik merupakan bagian dari performansi.
  • Pragmatik adalah telaah mengenai hubungan antara bahasa dan konteks yang tergramatisasikan atau disandikan dalam struktur sesuatu bahasa.
  • Pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup dalam teori semantik, atau dengan perkataaan lain: memperbincangkan segala aspek makna ucapan yang tidak dapat dijelaskan secara tuntas oleh referensi langsung kepada kondisi-kondisi kebenaran kalimat yang ciucapkan. Secara kasar dapat dirumuskan: pragmatik = makna - kondisi-kondisi kebenaran.
  • Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain: telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat.
  • Pragmatik adalah telaah mengenai deiksis, implikatur, anggapan penutur (presupposition), tindak ujar, dan aspek struktur wacana.

Parker (1986: 11), pragmatics is distinct from grammar, which is the study of the internal structure of language. Pragmatics is the study of how language is used to communicate.

Demikian yang dapat kami sampaikan tentang Pragmatik, semoga artikel kami ini bermanfaat untuk anda.

SUB-SUB DISIPLIN DALAM PSIKOLINGUISTIK

SUB-SUB DISIPLIN DALAM PSIKOLINGUISTIK | SUB-SUB DISIPLIN DALAM PSIKOLINGUISTIK  - Dear, readers, kembali kita masuk dalam sub bidang Psikolinguistik, dimana pada kesempatan kali ini kita ingin belajar tentang apasaja sub-sub disiplin dalam psikolinguistik. Semoga dengan artikel kami ini anda dapat memahami lebih jauh tentang Psikolinguistik.

a. Psikolinguistik teoritis
Sub disiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa.

b. Psikolinguistik perkembangan
      
Sub disiplin ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Sub disiplin ini mengkaji proses pemerolehan ponologi, proses pemerolehan simantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap dan terpadu. 
c. Psikolinguistik sosial
                  
           Sub disiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa.

d. Psikolinguistik pendidikan
     
Sub disiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal disekolah.

e.  Psikolinguistik-neorologi (neoropsikolinguistik)
          
Sub disiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa dan otak manusia.

f.   Psikolinguistik eksperimen
     
Sub disiplin ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.

g. Psikolinguistik terapan
     
Sub disiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam sub disiplin psikolinguistik di atas kedalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya.

Sub disiplin psikolinguistik yang sangat diperlukan bantuannya dalam pengajaran bahasa adalah psiokolinguistik pendidikan umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemayoran berbahasa, dan kemampuan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.

Minggu, 17 Mei 2020

PENGERTIAN KEBENARAN, JENIS-JENIS KEBENARAN, DAN PENDEKATAN ATAU UPAYA UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN

Sobat setia, kali ini kita akan membahas tentang PENGERTIAN KEBENARAN, JENIS-JENIS KEBENARAN, DAN PENDEKATAN ATAU UPAYA UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN, dan itu semua akan kita bahas secara singkat di sini.

 PENGERTIAN KEBENARAN 

Kebenaran adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Pernyatan ini pasti, dan tidak dapat dipungkiri lagi. Kita manusia selalu ingin tahu kebenaran, karena hanya kebenaranlah yang bisa memuaskan rasa ingin tahu kita, dengan kata lain  tujuan pengetahuan ialah mengetahui kebenaran. Tujuan ilmu juga mencapai kebenaran, dengan kata lain, dalam ilmu kita manusia  ingin memperoleh pengetahuann yang benar, karena ilmu merupakan pengetahuan yang sistematis, maka pengetahuan yang diituju ilmu adalah pengetahuan ilmiah.

Kita manusia bukan hanya sekedar ingin tahu, tetapi ingin mengetahu kebenaran. Kita juga selalu ingin memiliki pengetahuan yang benar. Kebenaran ialah persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang sesuai dengan obyeknya.

JENIS-JENIS KEBENARAN 

1. kebenaran Individual


Kebenaran Individual ini merupakan kebenaran yang di ikuti manusia berdasarkan pendapat sendiri.

2. Kebenaran Objektif

Kebenaran Objektif merupakan kebenaran yang biasanya bersumber dari ajaran leluhur  yang  diwariskan secara turun temurun dan sudah mendarah daging dalam masyarakat.

3. Kebenaran Hakiki

Kebenaran yang sifatnya mutlak, pasti dan tidak akan pernah mengalami perubahan, tentunya kebenaran ini bukan dari manusia, tetapi kebanaran ini datangnya dari Sang Pencipta, sebab itu jangan sekali-kali kita meragukannya.

UPAYA MEMPEROLEH KEBENARAN


1. Pendekatan Empiris

Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata, dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya. Kenyataan seperti ini menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman.

Bagi yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukan didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit.

2. Pendekatan Rasional


Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio, upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir,sehingga dengan kemampuannya tersebut manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.

3. Pendekatan Intuitif


Pendekatan ini merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu. Misalkan Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahan dari masalah yg dihadapi.

4. Pendekatan Religius

Kita sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran harus menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan Tuhan. Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti ini disebut sebagai pendekatan religious.

5. Pendekatan Otoritas

Yang dimaksud dengan pendekatan otoritas ini adalah seseorang yang memiliki kelebihan tertentu disbanding orang lain. Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima sebagai suatu kebenaran.

Well, itu saja yang dapat kami bagikan tentang Pengertian Kebenaran, Jenis-Jenis Kebenaran dan Upaya untuk Memperoleh Kebenaran. Thankz udah mampir di laman kami.

MASALAH-MASALAH YANG MENJADI POKOK BAHASAN PSIKOLINGUISTIK

MASALAH-MASALAH YANG MENJADI POKOK BAHASAN PSIKOLINGUISTIK
Masalah-masalah yang menjadi pokok bahasan psikolinguistik adalah :

a.   Apakah sumbernya bahasa itu? Apakah yang dimiliki oleh seseorang sehingga dia mampu berbahasa? Bahasa itu terdiri dari komponen-kompenen apa saja?

b.  Bagaimana bahasa itu lahir dan mengapa dia harus lahir? dimanakah bahasa itu berada dan disimpan?


c.       Bagaimana bahasa pertama (bahasa ibu) diperoleh seorang anak-anak? bagaimana perkembangan penguasaan bahasa itu? bagaimana bahasa kedua itu dipelajari? Bagaimanakah seseorang bisa menguasai dua, tiga atau banyak bahasa?

d.      Bagaimana proses penyusunan kalimat? Proses apakah yang terjadi didalam obik waktu berbahasa?


e.     Bagaimanakah bahasa itu tumbuh dan mati ? bagaimana proses terjadinya dialek? Bagaimana proses perubahan-perubahanya dialek tersebut menjadi bahasa baru?

f.      Bagaimanakah hubungan bahasa dengan pemikiran? Bagaimanakah pengarus kedwibahasaan/kemultibahasaan dengan pemikiran dan kecerdasan seseorang?


g.      Mengapa seseorang menderita penyakit/mendapat gangguan berbicara (seperti afasia), dan bagaimana cara menyembuhkannya?

h. Bagaimana bahasa itu harus diajarkan supaya hasilnya baik?

Pokok bahasan yang sangat berkaitan dengan pembelajaran bahasa adalah bahasa merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Dalam arti bahasa merupakan alat komunikasi didalam berinteraksi manusia dengan manusia secara harfiah.