Tampilkan postingan dengan label MATERI AJAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI AJAR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2020

LOGIKA BERFIKIR DEDUKTIF DAN INDUKTIF DENGAN METODE PENALARAN (REASONING)

Metode Penalaran (Reasoning)

1.      Deduktif
Dipelopori oleh Aristoteles. Bertolak dari asumsi umum yang kebenarannya tidak dipersoalkan, lalu diterapkan pada hal khusus yang dikenal sebgai Silogisme Kategorik (Kategorical Silogisme) yang terdiri dari 3 bagian :
a.      Premis Mayor
Pernyataan sifat hubungan yang kebenarannya diasumsikan terbukti dengan sendirinya (self evident)
b.      Premis Minor
Suatu kasus tertentu yang berhubungan dengan premis mayor
c.          Kesimpulan
Hasil hubungan logis premis mayor dengan premis minor.
                               
Kelemahannya :
        1. Kebenaran kesimpulan tergantung pada kebenaran premis mayor.
        2. Sulit menemukan pengetahuan baru
Metoda ini berlangsung sampai abad ke 17.
Berfikir secara deduktif adalah menggunakan sifat Koheren dalam menentukan kebenaran

2.                  Induktif
Francis Bacon menyanggah teori deduktif dengan Novum Organum .
Ia mengusulkan :
1. Pengamatan phenomena - phenomena yang diamatinya.
2. Berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan melalui pengamatan kasus-kasus yang banyak, kemudian generalisasi atau kasus yang bersifat umum.

Kelemahannya :
Pengumpulan kasus secara acak, konsep yang utuh mustahil dapat melahirkan teori-teori atau generalisasi yang benar.
Sedangkan berfikir secara Induktif yaitu menggunakan sifat korespondensi dalam menentukan kebenaran.
Pada abad ke 19 Charles Darwin memadukan kedua metoda itu (Best, 1975) Ia menyususn tepri asal usul manusia.

Minggu, 24 Mei 2020

PERBEDAAN PENGAJARAN DAN PENDIDIKAN

Terkadang orang salah mengartikan bahwa pengajaran juga adalah pendidikan, banyak dari masyarakat umum menganggap bahwa keduanya sama saja, padahal sudah jelas keduanya memiliki perbedaan yang jauh, sama halnya perbedaan antara mengajar dan mendidik.

Kali ini, untuk menjawab kesalahpahaman diatas, saya mencoba mencari referensi dari berbagai sumber tentang perbedaan dari keduanya dan inilah rangkuman perbedaan Pengajaran (Instruction) dan Pendidikan (Education).

  1. Pengajaran lebih menekankan pada penguasaan wawasan dan pengetahuan tentang bidang atau program tertentu seperti pertanian, kesehatan, enginering dan lain-lain sedangkan Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan manusia atau penanaman sikap dan nilai-nilai kehidupan dan budi pekerti luhur.
  2. Pengajaran hanya memakan waktu yang relatif pendek untuk suatu tujuan tertentu sedangkan Pendidikan memakan waktu yang relatif panjang.
  3. Metode Pengajaran lebih bersifat rasional, teknik, dan praktis. Semuanya dibuat mudah dipahami, terstruktur dan praktis dalam pengaplikasiannya, sedangkan METODE Pendidikan lebih bersifat psikologis dan pendekatan yang manusiawi.
Pada dasarnya Pengajaran dan Pendidikan dapat dibedakan namun dalam pengaplikasinnya sulit untuk dipisahkan. Jika keduanya berjalan sejalan dengan baik maka diapastikan output yang dikeluarkan mampu bersaing dalam dunia yang lebih luas. Misalnya:

Guru mengajar siswa menyusun jadwal belajar dirumah.

dalam konteks diatas, Pengajaran dan Pendidikan berjalan seiring. Hasil pengajarannya adalah siswa mampu membuat jadwal belajar di rumah dan hasil Pendidikannya adalah siswa mulai bisa mengatur jadwal belajarnya sehingga akan terbawa hingga besar untuk mematuhi aturan-aturan dan komitmen yang telah dibuatnya atau yang diberikan padanya.

Intinya, pengajaran dan pendidikan itu berbeda namun tidak bisa dipisahkan dalam pengaplikasiannya.

Sabtu, 23 Mei 2020

Menentukan Nilai Log (Logaritma) Dasar Tanpa Kalkulator, Definisi Pengertian Logaritma

Pengertian Logaritma: Logaritma adalah kebalikan dari suatu perpangkatan atau eksponen. Jika sebuah perpangkatan a^c = b, maka dapat dinyatakan dalam logaritma sebagai:


Tetapi, pada artikel kali ini, kita hanya akan membahas logaritma dasar.

Menentukan Nilai Log (Logaritma) Dasar Tanpa Kalkulator, Definisi Pengertian Logaritma

Pada dasarnya, ketika pelajaran logaritma, siswa atau mahasiswa diminta untuk membawa kalkulator. Padahal, menentukan nilai logaritma tidak perlu bergantung pada kalkulator. Kita mampu mencari nilai log ( minimal yang basis 10) asal tahu sifat-sifat logaritma. Ada nilai log basis 10 yang harus dihapal,yakni:

log 2 = 0,301
log 3 = 0,477
log 5 = 0,698
log 7 = 0,845

Tambahan:

log 10 = 1
log 100 = 2
log 1000 = 3 ... dst

Nah, dengan menghapal nilai-nilai ini, kita akan mampu menemukan nilai log tanpa kalkutor.


Menentukan Nilai Log (Logaritma) Dasar Tanpa Kalkulator, Definisi Pengertian Logaritma


INGAT!
Perkalian Log = +
Pembagian Log = -

Contoh:
1. Mencari nilai log 6000 

Untuk menentukannya, kita jabarkan dahulu nilai bilangan 6000 tersebut sebagai berikut:

Log 6000 
= log (6 x 1000)
= log (2 x 3) (10^3)
= log 2 + log 3 + 3 log 10 ==> Jika log 10, nilainya 1. Lalu dikalikan 3.
= 0,301 + 0,477 + (3 x 1)
= 0,301 + 0,477 + 3
= 3,778

atau:

Log 6000 
= log (6 x 1000)
= log (2 x 3 x 1000)
= log 2 + log 3 + log 1000
= 0,301 + 0,477 + 3
= 3,778

2. Menentukan Nilai log 750

Log 750
=  log (1500/2)
=  log 1500 – log 2
=  log (15 x 100) – log 2
=  log (3 x 5 x 100) – log 2
=  log 3 + log 5 + log 100 – log 2
=  0.477 + 0.698 + 2 – 0.301
=  2.874 (tingkat akurasi 99%)

Log 750 bisa juga dikerjakan dengan cara:

Log 750
= log (75 x 10)
= log (3 x 25 x 10)
= log (3 x 5 x 5 x 10)
= log 3 + 2 log 5 + log 10
= 0,477 + (2 x 0,698) + 1
= 0,477 + 1,396 + 1
= 2,873  (tingkat akurasi 99%)

Dari dua contoh pengerjaan di atas, maka hasilnya adalah mendekati 2,87 dengan tingkat akurasi 99%.

Demikianlah artikel kami tentang Menentukan Nilai Log (Logaritma) Dasar Tanpa Kalkulator, Definisi Pengertian Logaritma. Semoga bermanfaat.

Evaluasi Pembelajaran di SD: Konsep Dasar Asesmen Alternatif, Asesmen Kinerja, & Asesmen Portofolio

Evaluasi Pembelajaran di SD: Konsep Dasar Asesmen Alternatif, Asesmen Kinerja, & Asesmen Portofolio. Berikut adalah rumusan pertanyaan dari dosen:
1. Jelaskan konsep dasar asesmen alternatif.
2. Buatlah contoh bentuk asesmen kinerja.
3. Buatlah contoh asesmen portofolio.

Jawaban:
1. Penilaian dalam arti asesmen merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar siswa. Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan assesmen, yaitu traditional assessment, performance assessment, authentic assessment, portfolio assessment, achievement assessment, dan alternative assessment. Alternative assessment merupakan asasement yang tidak hanya tergantung pada tes tertulis. Pada dasarnya asasemen alternative merupakan alternative dari asesmen tradisional (paper and pencil test). Jadi traditional assessment, performance assessment, authentic assessment, portfolio assessment, dan achievement assessment merupakan kelompok asesmen alternatif.

2. Contoh bentuk asesmen kinerja:
Berikut ini adalah contoh asesmen kinerja dalam membedakan benda cair dan padat dengan teknik penilai daftar ceklist.

No
Aspek penilaian
Skala
Ya
Tidak
1
Menemukan ciri-ciri benda cair
2
Menemukan ciri-ciri benda padat
3
Memberikan contoh benda padat
4
Memberikan cntoh benda cair
5
Membedakan antara benda cair dan padat


Berikut ini adalah contoh asesmen kinerja membedakan benda cair dan padat  menggunakan Holistic Rubric.



Dimensi Kinerja
Skor
Deskripsi
1.       Kelengkapan media yang diamati (dibawa dari rumah)
4
3
2
1
Membawa minimal 4 benda padat dan 4 benda cair.
Membawa minimal 3 benda padat dan 3 benda cair.
Membawa minimal 2 benda padat dan 2 benda cair.
Membawa minimal 1 benda padat dan 1 benda cair
2.       Kualitas pengerjaan tugas
4
3
2
1
Tugas dikerjakan dengan sangat baik dan akurat.
Tugas dikerjakan dengan baik tetapi kurang akurat.
Kualitas pengerjaan tugas kurang baik dan kurang akurat.
Kualitas pengerjaan tugas tidak baik dan tidak akurat.
3.       Kemampuan membedakan benda padat dan benda cair
4


3

2

1
Mampu membedakan benda cair dan benda padat dengan sangat tepat dan akurat.
Mampu membedakan benda cair dan benda padat dengan tepat tetapi akurat.
Kurang mampu membedakan benda cair dan benda padat dengan tepat.
Tidak mampu membedakan benda cair dengan benda padat.

                
Nilai Akhir Siswa = (Skor perolehan )/(Total Skor)  x 100

Contoh asesmen portofolio:
3.        

BAHASA INDONESIA
Nama                : _________________________________
Alokasi waktu: 1 semester
Kelas                     : VI-A
Tahun  Ajaran    : 2019/2020

Kompetensi Dasar
(Materi Uji)
Periode Tanggal
Penggunaan Kata Baku
Tata Bahasa
Sistematika Penulisan
SKOR

1.       Menuliskan kembali teks fiksi dengan bahasa sendiri.
13/01/2020





2.       Menuliskan contoh teks nonfiksi tentang pengalaman liburan
30/01/2020





3.       Menuliskan contoh teks nonfiksi tentang pengaruh globalisasi
15/02/2020





4.       Membuat puisi tentang Lingkungan Sehat
26/02/2020





5.       Menuliskan contoh surat formal
11/03/2020





6.       Menuliskan contoh surat informal
25/03/2020





7.       Menuliskan teks pidato
08/04/2020













Nilai Akhir Siswa = (Skor perolehan )/(Total Skor)  x 100

Kamis, 21 Mei 2020

Teori Belajar kognitif-Field Lewin | Kognitif Field Theory by Lewin

Teori Belajar kognitif-Field Oleh Lewin - Setelah kita mengenal Teori belajar Kognitif yang telah saya posting sebelumnya di sini, sekarang mari kita melihat dan mengenal lebih jauh para Ahli yang mengembangkan teori belajar kognitif ini dengan pengembangan mereka sendiri.

Untuk itu, kita langsung saja menuju ke TKP yang pertama yaitu Teori Belajar kognitif-Field yang dikemukakan oleh Lewin. 

Bertolak pada teori Gestalt, Lewin mengembangkan teori belajar berdasarkan Life Space (dunia psikologis dari kehidupan individu). Masing – masing individu berada di dalam medan kekuatan psikologis, medan itu dinamakan Life Space yang terdiri dari dua unsur yaitu kepribadian dan psikologi social.

Ia menyatakan bahwa tingkah laku belajar merupakan usaha untuk mengadakan reorganisasi/ restruktur (dari isi jiwa). Tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan baik dari dalam (tujuan, kebutuhan, tekanan batin, dan sebagainya) maupun dari luar (tantangan, permasalahan).

Saya lupa sumber bukunya, ini adalah tugas kuliah saya dahulu, intinya tentang Semantik dan juga Psikologi Pendidikan, termasuk Buku Teori Belajar.

Robert Gagne (1916 – 2002) | Ahli Psikologi Behavioristik

Robert Gagne (1916 – 2002) | Ahli Psikologi Behavioristik - Selanjutnya adalah Robert Gagne. Teori gagne banyak dipakai untuk mendisain Software instructional (Program berupa Drill Tutorial). Kontribusi terbesar dari teori instructional Gagne adalah 9 kondisi instructional:
  •  Gaining attention = mendapatkan perhatian
  •  Intorm learner of objectives = menginformasikan siswa mengenai tujuan yang akan dicapai
  • Stimulate recall of prerequisite learning = stimulasi kemampuan dasar siswa untuk persiapan belajar.
  • Present new material = penyajian materi baru
  • Provide guidance = menyediakan pembimbingan
  • Elicit performance = memunculkan tindakan
  • Provide feedback about correctness = siap memberi umpan balik langsung terhadap hasil yang baik
  • Assess performance = Menilai hasil belajar yang ditunjukkan
  • Enhance retention and recall = meningkatkan proses penyimpanan memori dan mengingat.
Gagne disebut sebagai modern noebehaviouristik karena mendorong guru untuk merencanakan pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi.

Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.