Tampilkan postingan dengan label MODEL METODE PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MODEL METODE PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2020

CARA BELAJAR AUDITORIAL | auditory

Belakangan, setelah memahami konsep kemampuan menyerap pengetahuan yang berbeda-beda dalam bentuk Visual, Auditory, dan Kinestetik (VAK), baru saya agak sedikit mengerti mengapa mereka bisa enak-enakan tidur di kelas tetapi mendapatkan nilai baik. Kelihatannya mereka adalah tipe pembelajar auditory, yaitu para pembelajar yang bisa menyerap informasi dan mata pelajaran, justru lebih banyak dari mendengar dibandingkan dengan membaca secara langsung. Jadi, mereka belajar saat orang lain membaca pelajarannya keras-keras. Di situlah mereka bisa lebih banyak menyerap informasi. Selanjutnya, dengan kecerdasan yang mereka miliki, informasi itu dengan mudah dikelola dan disimpan sehingga pas ujian tinggal membuka informasi itu dari simpanan memorinya. Bukannya tidak belajar, tetapi begitulah cara mereka belajar. Berikut ini ciri-ciri dari Cara Belajar atau model Pembelajaran Auditory.


Model pembelajar auditori adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditori ini. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah:

  1. Lebih cepat menyerap dengan mendengarka
  2. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  3. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.
  4. Bagus dalam berbicara dan bercerita
  5. Berbicara dengan irama yang terpola
  6. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  7. Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  9. Suka musik dan bernyanyi
  10. Tidak bisa diam dalam waktu lama
  11. Suka mengerjakan tugas kelompok
 Saya rasa setelah memahami ini, kita menjadi lebih tahu bagaimana sebenarnya menyikapi siswa-siswi kita yang terkadang kita menganggap mereka tidak peduli terhadap pelajaran, namun begitulah cara mereka belajar dan memperoleh ilmu. Semoga bermanfaat.

CIRI-CIRI MODEL PEMBELAJARAN VISUAL, AUDITORIAL, DAN KINESTETIK

Dalam proses memperoleh ilmu, setiap individu memiliki caranya tersendiri dalam menyikapi dan bertindak terhadap proses pembelajaran. Hal ini disebut dengan cara belajar atau lebih dikenal dengan Model Pembelajaran. Secara garis besar, Model Pembelajaran dikelompokkan ke dalam tiga bagian yaitu Model Belajar Visual, Auditorial, dan Kinestetik. Untuk lebih jelasnya mengetahui ketiga kelompok Model Pembelajaran tersebut, berikut ini adalah ciri-cirinya.

1.      Visual

Modalitas ini menyerap citra terkait dengan visual, warna, gambar, peta, diagram. Model pembelajar visual menyerap informasi dan belajar dari apa yang dilihat oleh mata. Beberapa ciri dari pembelajar visual di antaranya adalah:

  • Mengingat apa yang dilihat, daripada yang didengar.
  • Suka mencoret-coret sesuatu, yang terkadang tanpa ada artinya saat di dalam kelas
  • Lebih suka membaca daripada dibacakan
  • Mementingkan penampilan, dalam hal pakaian ataupun penampilan keseluruhan
  • Lebih memahami gambar dan bagan daripada instruksi tertulis


2.      Audiotorial

Model pembelajar auditori adalah model di mana seseorang lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Penjelasan tertulis akan lebih mudah ditangkap oleh para pembelajar auditori ini. Ciri-ciri orang-orang auditorial, di antaranya adalah:

  • Lebih cepat menyerap dengan mendengarkan
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, birama, dan warna suara.
  • Bagus dalam berbicara dan bercerita
  • Berbicara dengan irama yang terpola
  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  • Suka berbicara, suka berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu panjang lebar
  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  • Suka musik dan bernyanyi
  • Tidak bisa diam dalam waktu lama
  • Suka mengerjakan tugas kelompok


3.      Kinestetik

Model pembelajar kinestetik adalah pembelajar yang menyerap informasi melalui berbagai gerakan fisik. Ciri-ciri pembelajar kinestetik, di antaranya adalah:

  • Selalu berorientasi fisik dan banyak bergerak
  • Berbicara dengan perlahan
  • Menanggapi perhatian fisik
  • Suka menggunakan berbagai peralatan dan media
  • Berdiri dekat ketika berbicara dengan orang
  • Belajar melalui praktek
  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  • Menggunakan jari sebagai penunjuk ketika membaca
  • Banyak menggunakan isyarat tubuh
  • Tidak dapat duduk diam untuk waktu lama
  • Menyukai buku-buku yang berorientasi pada cerita
  • Kemungkinan tulisannya jelek
  • Ingin melakukan segala sesuatu
  • Menyukai permainan dan olah raga
tidak menutup kemungkinan bahwa seorang anak yang kecerdasannya di atas rata-rata bisa memiliki kemampuan secara visual-auditory atau balance/seimbang diantara keduanya, namun tidak terlalu dominan. Nah, biasanya dengan mengenal model belajar anak, maka orang tua atau guru akan mudah menyesuaikan cara belajar anak tersebut dengan materi ajar atau perlakuan dalam kegiatannya sehari-hari.

Semisal, jika kita sudah tau bahwa anak kita adalah auditory, maka bisa dibelikan mp3 player, headset, atau perangkat pendukung lainnya. Anak auditory juga lebih mudah mengerti dengan penjelasan secara lisan. Dan jika cara belajar anak adalah visual, maka cara belajarnya tidak hanya ceramah, tetapi harus ada visual atau tulisan atau gambar yang dilihat baru bisa memahami. Cara membantu mereka adalah dengan menyediakan buku-buku, gambar, video pembelajaran terkait.

Sedangkan untuk anak yag memiliki kemampuan belajar kinestetik, maka bisa didampingi dalam kegiatan belajar yang melibatkan fisik atau gerak, misal kerja proyek, demonstrasi, praktik dsb.

Demikianlah artikel singkat kami tentang CIRI-CIRI MODEL PEMBELAJARAN VISUAL, AUDITORIAL, DAN KINESTETIK, semoga bermanfaat untuk pengetahuan dasar kita.

Minggu, 19 April 2020

PENGERTIAN Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

PENGERTIAN Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) | Metode Belajar Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa atau individu untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.


CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Rasio

Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.

Pemikiran Tentang Belajar

Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.

Hakekat

Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
  • Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
  • Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
  • Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
  • Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
  • Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
  • Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
  • Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil  tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.

Penerapan CTL dalam pembelajaran

Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa. Nah... mudah-mudahan  bermanfaat yah.....

Cooperative Learning (Model Pembelajaran Kooperatif)

Cooperative Learning is a learning method which underlines on groups activity to work together and to help in constructing concepts and finishing problems (Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning adalah metode pembelajaran yang menekankan pada aktivitas berkelompok untuk saling bekerjasama dan membantu dalam merekonstruksi konsep dan menyelesaikan masalah).

Pembelajaran Cooperative Learning sesuai dengan sifat alamiah manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari keberadaan orang lain. Atau dengan kata lain ada untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya, dimana masing-masing saling bersinggungan, bekerja sama, mempunyai tujuan dan tanggung jawan bersama. Model pembelajaran Cooperative Learning menekankan siswa untuk saling berbagi atau Sharing dalam pengetahuan, pengalaman, tugas dan tanggungjawab. Mereka berada dalam satu kelompok untuk saling membantu (to help each other to understand the topic they are discussing), berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi, dengan tetap memperhatikan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk kemudian saling melengkapi.

Dalam aplikasinya, model Pembelajaran Kooperatif dapat dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 atau 5 siswa dan masing-masing diberi tugas sesuai dengan kemampuan dan kemauan.

Ciri-ciri pembelajaran Cooperative Learning:

  1. Adanya kelompok siswa yang saling bekerjasama dalam proses belajar dan dalam menyelesaikan suatu masalah.
  2. Dalam setiap kelompok atau satu kelompok terdiri dari siswa dengan kapasitas dan kemampuan yang tinggi, sedang dan rendah. kemudian mereka saling membantu dan melengkapi.
  3. Perbedaan fisik maupun karakter dari setiap siswa justru menjadi bagian pembelajaran agar masing-masing siswa saling memahami dan bekerjasama.
  4. Kerja kelompok lebih ditekankan dari kerja individu.
Model Pembelajaran Kooperatif ini meliputi lima metode pembelajaran yaitu:
  1. Student Teams-Achievement Divisions (STAD) Method
  2. Jigsaw Method
  3. Group Investigation Method
  4. Structural Method
  5. Teams Games Tournament (TGT) Method

Jigsaw Technique or Jigsaw Method | Metode atau Tehnik Jigsaw Pembelajaran Kooperatif

Well, at this point I want to share about Jigsaw Method. Jigsaw  is a technique or method used in Cooperative Learning. In this method, teacher divides a huge or big information into several small components. Then the students are divided into Cooperative Learning Groups and each group consists of  four to six students and all the member take responsibility to understand all the material as good as possible.


Jigsaw Technique is one of the cooperative learning methods invented by Aronson. In the application of jigsaw technique, students separate from their own groups (home groups) and form a new group with the other students who are responsible for preparing the some subjects. 


Mengduo and Xioaling (2010: 113) state that jigsaw technique was considered effective in increasing positive educational outcomes. As a cooperative learning technique, it has been greatly studied abroad and has been explored in various ways by a numbers of researchers and teachers in classes of different levels and of different subjects. Suyanto (2012: 169) states that the implementation of cooperative learning jigsaw technique in the teaching learning process can make the students more responsible, therefore they directly and actively take a part in comprehending a problem and fix it together in a group.


Further, Berkeley-Wykes in Ali (2001) defines Jigsaw Reading Technique as the technique in which a reading text is cut into segments and the task of the students is to restore it to its proper order – to make sense of the text. If used as a group activity where the students discuss the decisions of how to order the segments of the text, it can elicit s great deal of communicative interaction.


Aronson, as a developer of jigsaw technique in jigsaw official site, defines the implementation of Jigsaw technique in 10 Easy Steps as below: 


  1. Divide students into 5- or 6-person jigsaw groups. The groups should be diverse in terms of gender, ethnicity, race, and ability.
  2. Appoint one student from each group as the leader. Initially, this person should be the most mature student in the group.
  3. Divide the day's lesson into 5-6 segments.
  4. Assign each student to learn one segment, making sure students have direct access only to their own segment.
  5. Give students time to read over their segment at least twice and become familiar with it. There is no need for them to memorize it.
  6. Form temporary "expert groups" by having one student from each jigsaw group join other students assigned to the same segment. Give students in these expert groups time to discuss the main points of their segment and to rehearse the presentations they will make to their jigsaw group.
  7. Bring the students back into their jigsaw groups.
  8. Ask each student to present her or his segment to the group. Encourage others in the group to ask questions for clarification.
  9. Float from group to group, observing the process. If any group is having trouble (e.g., a member is dominating or disruptive), make an appropriate intervention. Eventually, it's best for the group leader to handle this task. Leaders can be trained by whispering an instruction on how to intervene, until the leader gets the hang of it.
  10. At the end of the session, give a quiz on the material so that students quickly come to realize that these sessions are not just fun and games but really count.

Each student on the team becomes an "expert" on one topic by working with members from other teams assigned the corresponding expert topic. Upon returning to their teams, each one in turn teaches the group; and students are all assessed on all aspects of the topic.


Aronson, in Jigsaw Official site (2013), states that the purpose of Jigsaw is to develop teamwork and cooperative learning skills within all students. In addition it helps develop a depth of knowledge not possible if the students were to try and learn all of the material on their own. Jigsaw learning allows students to be introduced to material and yet maintain a high level of personal responsibility. Finally, because students are required to present their findings to the home group, Jigsaw learning will often disclose a student’s own understanding of a concept as well as reveal any misunderstandings.



While there are others Jigsaw techniques, the original one was invented by Aronson (it then be called Jigsaw I), Jigsaw II was developed by Robert Slavin and Reverse Jigsaw was developed by Timothy Hedeen. But the most likely each other are Jigsaw I by Aronson and Jigsaw II by Slavin. In the table 2.1 below, it shows the differences of the implementation of Jigsaw I and Jigsaw II.


Table 2.1 Comparison of jigsaw I and jigsaw II techniques


Jigsaw    I (Anderson)

  1. Formation of home groups and pre-work
  2. Giving the groups of experts the units of work
  3. Expert groups research their expertise subjects before they return to their home groups
  4. Students in expert groups return to their home groups to share what they have learnt with their friends.
  5. Individual evaluation and grading.

Jigsaw II (Slavin)
  1. Formation of home groups and pre-work
  2. Giving the groups of experts the units of work
  3. Expert groups research their expertise subjects before they return to their home groups
  4. A test of expertise is given to expert groups before they return to their home groups.
  5. Students in expert groups return to their home groups to share what they have learnt with their friends.
  6. Individual evaluation and grading. 
Source: Sahin (2010)


In table 2.1 above, it shows that generally there are five stages in Jigsaw I and six stages in Jigsaw II. The difference is at the fourth stage of Jigsaw II. On the fourth stage in Jigsaw II developed by Slavin, there is a test of expertise is given to expert groups before they return to their home groups, while it is not done in Jigsaw I by Aronson.