Tampilkan postingan dengan label MEMBACA DAN MENULIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MEMBACA DAN MENULIS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2020

PEMBELAJARAN MEMBACA / BELAJAR BAHASA

PEMBELAJARAN MEMBACA
Mengingat keterampilan membaca merupakan suatu hal yang sangat penting maka sangat wajar pula apabila membaca dijadikan  sebagai suatu mata pelajaran di sekolah. Dalam kurikulum tradisional  di sekolah dasar sudah tercantum membaca sebagai salah satu mata pelajaran. Lengkapnya berisi tiga mata pelajaran  yakni membaca, menulis, dan berhitung. Walaupun kurikulum sering berubah dan berkembang, membaca sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa tetap hadir dalam kurikulum sekolah. 

Bahasa Indonesia sudah dijadikan sebagai suatu mata pelajaran dan diajarkan dari jenjang pendidikan paling rendah sampai ke jenjang  pendidikan teringgi. Membaca sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia diangkat sebagai salah satu pokok bahasan di SD, SLTP, dan SLTA.

Pengembangan keterampilan membaca tersebut pertama-tama dibebankan kepada guru bahasa Indonesia di sekolah dasar. Melalui pengajaran bahasa Indonesia, pokok bahasan membaca, guru harus mengarahkan siswanya agar dapat:

(a)  membaca atau melek huruf,
(b)  memahami pengertian dan peranan membaca,
(c)  memahami teori dasar membaca,
(d)  memiliki minat baca,
(e)  memiliki keterampilan membaca.

Melalui pokok bahasan membaca siswa mengenal, memahami, dan menghayati struktur bahasa mulai dari struktur yang terkecil sampai struktur yang terbesar (fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragaraf, dan wacana).

Jenis kegiatan membaca ada macam-macam. Namun yang terpenting di antaranya adalah kegiatan  membaca pemahaman. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang diikuti siswa semakin tinggi pula tuntutan penguasaan keterampilan tersebut. Aktivitas siswa dalam membaca pemahaman selalu mengacu kepada pengecekan pemahaman siswa terhadap isi bacaan. Termasuk di dalamnya pemahaman kata, ungkapan, kalimat, isi paragraf, dan isi wacana dan akhirnya siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan.

Mengapa pembelajaran bahasa Indonesia sangat membosankan?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut guru dituntut untuk berusaha agar pengajaran bahasa Indonesia khususnya membaca disukai siswa. Hal ini dapat terlaksana apabila guru  telah menguasai materi dan cara penyampaian materi guru  haarus sudah mengenal, memahami, menghayati, dan dapat menerapkan berbagai metode peembelajarn membaca.

JENIS-JENIS MEMBACA: MEMBACA NYARING, MEMBACA DALAM HATI DAN MEMBACA INDAH

JENIS-JENIS MEMBACA: MEMBACA NYARING, MEMBACA DALAM HATI DAN MEMBACA INDAH |   Dalam kajian membaca dikenal banyak jenis membaca.  Dasar pijakan dalam melakukan pembagian atau penggolongan jenis-jenis membaca tersebut tentunya bermacam-macam. Ditinjau dari terdengar tidaknya suara si pembaca pada waktu membaca, menjadi dua jenis, yakni membaca dalam hati (silent reading), serta membaca nyaring atau membaca bersuara (oral reading or aloud reading). Dilihat dari sudut cakupan bahan bacaan yang dibacanya, membaca dapat kita golongkan ke dalam membaca ekstensif (extensive reading) dan membaca intensif  (Intensive). Dilihat dari tingkatan kedalamannya atau levelnya, membaca dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yakni membaca literal (literary reading), membaca kritis (critical reading), dan membaca kreatif (creatif reading).

Nurhadi (1987 :143) membagi membaca menjadi tiga macam yakni membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif. Kemudian, Paul C.Burns dan Betty D.Roe menyatakan bahwa membaca meliputi membaca pemahaman literal, membaca pemahaman interpretatif, membaca  kritis, serta membaca kreatif. Perbedaan antara pendapat Nurhadi dan Burns & Roe terletak pada membaca literal. Dalam Burn dan Roee, membaca literal termasuk membaca pemahaman yang literal termasuk membaca pemahaman yang literal  dan yang interpretatif.

a.   Membaca Nyaring
Selama ini banyak orang memberikan pengertian ihwal membaca nyaring ini secara sederhana sekali, yakni kegiatan membaca dengan mengeluarkan suara atau kegiatan melafalkan lambang-lambang bunyi bahasa dengan suara yang cukup keras. Pada tataran yang palng rendah, misalnya siswa kelas satu SD yang baru belajar membaca tentu saja pengertian semacam itu tidaklah salah, karena membaca teknis seperti yang diajarkan di kelas I dan II menekankan pada upaya guru untuk menjadikan anak melek huruf, artinya mendidik anak agar dapat mengenali dan mengubah lambang-lambang tertulis menjaddi bunyi-bunyi yang bermakna. Hanya dalam tataran yang lebih tinggi, misalnya pada anak-anak sudah mulai lancar membaca, pengertian membaca nyaring pada dasarnya bukanlah kegiatan membaca untuk diri sendiri tetapi membaca untuk kepentingan orang lain (pendengar). Membaca nyaring merupakan proses mengkomunikasikan isi bacaan (dengan nyaring) kepada orang lain.

Pada hakikatnya, membaca nyaring adalah  proses melisankan sebuah tulisan dengan memperhatikan suara, intonasi, dan tekanan secara tepat, yang diikuti oleh pemahaman makna bacaan oleh pembaca (ef. Kamidjan, 1996:9)

Oleh karena itu ada hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam mengajarkan membaca  nyaring, yaitu:

·         latihan lafal, baik vokal maupun konsonan
·         latihan nada/ lagu ucapan
·         latihan penguasaan tanda-tanda baca
·         latihan pengelompokan kata/ frase ke dalam saatuan-satuan ide (pemahaman)
·         latihan kecepatan mata
·         latihan ekspresi (membaca dengan perasaan)

Untuk membantu para pendengar menangkap serta memahami maksud pengarang, maka H.G Tarigan (1986:26) mengungkapkan pembaca nyaring haruslah menggunakan berbagai cara, antara lain:

·         menyoroti ide-ide baru dengan menggunakan penekanan yang jelas
·         menjelaskan perubahan dari satu ide ke ide berikutnya
·         merencanakan kesatuan ide pikiran di dalam satuan kalimat
·         menjaga suara agar senantiasa nyaring dan jelas
·         menjelaskan klimaks-klimaks dengan gaya dan ekkspresi yang baik dan tepat.

Dengan mengutip pendapat Barbe & Abbot (1975), H.G.Tarigan (1986: 24-25) menyebutkan aneka keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring di sekolah dasar, yaitu:

Kelas  I:
·         mempergunakan ucapan yang tepat
·         mempergunakan frasa yang tepat (bukan kata demi kata)
·         mempergunakan intonasi suara yang wajar agar makna mudah dipahami menguasai tanda-tanda baca sederhana, seperti tanda titik, koma, tanya, atau seru
·         memiliki sikap yang baik dalam merawat buku

Kelas II
·         membaca dengan terang dan jelas
·         membaca dengan penuh perasaan dan ekspresi
·         membaca tanpa tertegun-tegun atau terbata-bata

Kelas  III
·         membaca dengan penuh perasaan dan ekspresi
·         membaca dengan penuh pemahaman


Kelas IV
·         memahami bahan bacaan pada tingkat dasar,
·         kecepatan mata dan saat membaca yakni 3 kata dalam satu detik

Kelas  V
·         membaca dengan penuh pemahaman dan perasaan
·         mulai dapat membaca nyaring tanpa harus terus-menerus melihat pada teks

Kelas  VI
·         membaca nyaring dengan penuh perasaan dan ekspresi
·         mampu menggunakan frasa dan susunan kata yang tepat
·         membaca dengan penuh kepercayaan diri.


b.  Membaca Pemahaman

Untuk peringkat kelas-kelas yang lebih tinggi, frekuensi kegiatan membaca teknis seperti ini semakin dikurangi karena  tingkat kelas yang lebih tinggi mengutamakan aspek pemahaman. Kegiatan membaca  ini perlu segera dilatihkan setelah siswa menguasai semua huruf.
Membaca pemahaman biasanya dilakukan tanpa bersuara. Dalam kegiatan sehari-hari, orang jauh lebih banyak melakukan kegiatan membaca seperti ini. Di samping tidak mengganggu orang lain, juga  waktu yang ditempuh dalam membaca dapat lebih dihemat daripada dengan menyuarakan bahan bacaan, karena membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan membaca yang tujuan utamanya adalah memahami bacaan secara tepat dan cepat.
Sejumlah aspek yang diperlukan pembaca dalam membaca pemahaman adalah:
·         memiliki kosa kata yang cukup banyak;
·         memiliki kemampuan menafsirkan makna kata, frasa, kalimat, dan wacana;
·         memiliki kemampuan menangkap ide pokok dan ide penunjang;
·         memiliki kemampuan menangkap garis besar bacaan dan rinciannya;
·         memiliki kemampuan menangkap urutan peristiwa dalam bacaan (Kamijan , 1996).

Sebaliknya hambatan juga sering ditemukan dalam kelancaran membaca pemahaman, seperti:
·   membaca dengan vokalisasi, baik dengan suara terdengar, berbisik, atau hanya komat-kamit mulut saja;
·         membaca deengan gerakan kepala yang diikuti baris demi baris bacaan;
·         membaca kata demi kata;
·         bahan bacaan yang banyak mengandung kata-kata sulit.

Suatu hal yang sangat baik bila pada saat membaca, guru memantau kegiatan baca anak didik bukan hanya sekedar dituntut untuk memeriksa hasil kegiatan baca anak, melainkan memperhatikan pula bagaimana proses membaca itu     berlangsung.

Untuk mengembangkan kemampuan siswa memahami bacaan, Smith & Baret mengemukakan empat kategori pemahaman yaitu: (a) pemahaman harfiah, (b) pemahaman inferensial, (c) pemahaman evaluasi, dan (d) pemahaman apresiasi.

(a) Pemahaman Harfiah
Pemahaman harfiah membimbing siswa untuk menemukan infromasi yang secara gamblang diungkapkan dalam bacaan. Rancangan pertanyaan ditujukan untuk melatih siswa mengenal dan mengingat kemballi suatu fakta atau kejadian.

(b) Pemahaman Inferensial
Pemahanan inferensial ditunjukkan oleh siswa bila dapat mencari kesimpulan dari hal-hal yang diketahui dari bacaan, Pertanyaan-pertanyaan hendkanya merangsang jawaban siswa di luar halaman bacaan. 

(c) Pemahaman Evaluasi
Bila siswa dapat menunjukkan tilikan evaluatif dengan membandingkan buah pikiran yang disajikan wacana dengan kriteria yang ada dalam dirinya atau kriteria dari sumber lain, maka siswa tersebut telah mempunyai kemampuan pemahaman evaluasi

(d) Pemahaman Apresiasi
Pemahaman apresiasi berhubungan dengan impak psikologis dan estetis siswa. Selain itu, juga membimbing siswa mengenai teknik-teknik, bentuk, gaya serta struktur kata. Pertanyaan pada kategori ini dapat diarahkan kepada cara pengarang merangsang emosi pembaca.


c.   Membaca Indah

Pada hakikatnya membaca indah ialah membaca teknik juga, jadi selain  keterampilan membaca seperti yang telah disebutkan di atas ada juga  keterampilan membacakan, yang artinya membaca yang dilakukan untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan keindahan dan apresiasi sastra.
Yang menjadi perhatian utama dalam membaca indah ialah unsur irama, intonasi, ketepatan ucapan, intonasi kalimat seru, kalimat ajakan, kalimat permohonan dan seterusnya. Bahan untuk keperluan ini ialah puisi, prosa liris, bacaan dialog atau naskah drama.
  Membaca sastra termasuk  membaca indah. Membaca sastra merupakan kegiatan membaca karya-karya sastra, baik dalam hubungannya dengan kepentingan apresiasi maupun dalam hubungannya dengan kepentingan studi atau kepentingan pengkajian.

Faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan membaca Menurut Pearson & Hafni

Faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan membaca Menurut Pearson & Hafni | Pearson mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan serta minat baca dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yakni :
  1. Faktor yang bersifat intrinsik (berasal dari dalam diri pembaca), antara lain meliputi kepemilikan kompetensi bahasa si pembaca, minat , motivasi, dan kemampuan membacanya
  2. Faktor yang bersifat ekstrinsik (berasal dari luar pembaca), antara lain unsur-unsur yang bersal dari dalam teks bacaan (misal keterbacaan, organisasi teks, wacana) dan unsur-unsur  yang berkenaan dengan fasilitas, guru, model pengajaran (Pearson dalam Hafni, 1981: 2-3)


Selanjutnya Hafni juga mencoba merumuskan beberapa penyebab kesullitan memahami bacaan ke dalam beberapa alasan. Rumus-rumus yang digunakan didasarkan pada pendapat Swan (1979) yang berpandangan bahwa beberapa penyebab kesukaran memahami isi bacaan berakar pada kebiasaan baca yang salah. Kebiasaan-kebiasaan dimaksud meliputi:
  1. Terlalu banyak memperhatikan butir demi butir informasi sehingga gagal memberi makna pada teks;
  2. Kurang memberi perhatian kepada detail, sehingga meskipun maksud umum bacaan tertangkap secara utuh namun gagal dalam memahami  butir-butir tertentu; dengan demikian unsur-unsur kecil dalam bacaan, seperti, kata hubung, kata ingkar, kata modal luput dari perhatian pembaca;
  3. Terlalu imajinatif, terutama bila pembaca menganggap telah mengetahui topik tertentu dalam bahan bacaan atau mempunyai pendapat yang kuat tentang topik tersebut; dengan demikian pembaca akan menafsirkan makna teks  dari sudut pengetahuan dan pengalamannya sendiri;
  4. Kalimat-kalimat yang tersajii di dalam teks mempunyai tingkat kompleksitas yang tinggi; keruwetan sintaksis dapat menyebabkan kesulitan pada pembacanya;
  5. Gaya penulisan yang bertipe mengulang-ngulang gagasan dengan ungkapan-ungkapan dan kata-kata yang khusus  juga dapat menimbulkan kesulitan pada pembacanya;
  6. Gaya pengungkapan pokok pikiran penting secara tidak langsung yaang mengharuskan pembaca mengambil inferensi atas informasi-informasi yang tidak tersirat dalam bacan, juga dapat menimbulkan kesullitan pada bacaannya;
  7. Penggunaan kata yang tidak akrab dengan pembacanya juga merupakan kendala bagi pemahaman bacaan.
Demikianlah artikel kami tentang Faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan membaca Menurut Pearson & Hafni, Semoga bermanfaat.

PROSES MEMBACA SEBAGAI PROSES PSIKOLOGIS, SENSORIS, PERSEPTUAL

PROSES MEMBACA SEBAGAI PROSES PSIKOLOGIS, SENSORIS, PERSEPTUAL | Proses membaca - Membaca bukanlah merupakan proses yang pasif melainkan aktif. Artinya seorang pembaca harus dengan aktif berusaha menangkap isi bacaan yang dibacanya  tidak boleh hanya menerimanya saja. Oleh karena itu ada orang yang mengibaratkan proses membaca itu bagaikan proses menangkap bola  dalam sebuah permainan sepak bola, dan bukannya proses menerima bingkisan lebaran

 Sebagaimana kita maklumi seorang pemain sepak bola yang baik  harus memperhatikan gerakan-gerakan bola yang ditendang, baik oleh kawan maupun lawan main. Terkadang dia harus lari, lompat untuk dapat menangkap bola. Bola yang didapat kemudian digiring, bila perlu dioperkan kepada kawan dulu kemudian dimasukkannya dalam gawang. Begitu pula halnya dengan  kegiatan membaca. Pembaca harus berusaha menangkap pesan yang terdapat dalam bacaannya secara aktif, setelah itu memahami lebih lanjut isi yang terdapat di dalamnya, dan kalau perlu mengomentarinya. Jadi tidak begitu saja menerima seluruh pesan  yang disampaikan seperti halnya saat menerima bingkisan lebaran tadi.

 Selanjutnya proses membaca juga tidak selamanya identik dengan proses mengingat. Membaca bukan harus hafal kata demi kata atau kalimat demi kalimat yang terdapat dalam bacaan. Yang lebih penting ialah menangkap pesan atau ide pokok  bacaan dengan baik.

a.   Membaca sebagai suatu proses psikologis

Yang dimaksud dengan membaca sebagai proses psikologis yakni bahwa kesiapan dan kemampuan membaca seseorang itu dipengaruhi serta berkaitan erat dengan faktor-faktor yang bersifat psikis seperti  motivasi, minat, latar belakang sosial ekonomi, sertaa oleh tingkat perkembangan dirinya, seperti intelegansi dan usia mental  (mental age).

b.  Membaca sebagai proses sensoris

Membaca itu pada awalnya merupakan proses sensoris, yakni dimulai dari melihat (bagi mereka yang matanya normal) atau meraba (bagi mereka  yang tuna netra).  Stimulus masuk lewat indera penglihatan, mata. Pada tingkat awal anak-anak  menunjukkan kemampuan yang secara umum sekali disebut membaca. Pada saat permulaan itu anak mulai sadar bahwa  tanda dan lambang tentu menunjukkan nama atau benda. Kemudian mereka belajar bahwa jika lambang-lambang tersebut itu dirangkai-rangkaian maka akan tersusunlah suatu pembicaraan.

Kapankah anak-anak telah memiliki kesiapan penglihatan untuk memulai membaca buku? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya anak mempunyai kesiapan penglihatan untuk membaca pada usia 5-6 tahun. Pada usia tersebut anak dianggap telah memiliki kompetensi koordinasi binakular, persepsi yang dalam pemfokusan pengaturan dan pengubahan perasaan secara bebas. Akan tetapi pada usia tersebut karena anak merupakan pribadi-pribadi dengan pola kepribadian yang berbeda dalam pertumbuhan dan perkembangannya dan kita harus memiliki pengetahuan-pengtahuan yang layak tentang hal-hal yang pantas diperhatikan.

c.   Membaca sebagai proses perseptual

Proses perseptual dalam membaca mempunyai kaitan yang erat dengan proses sensoris. Oleh karena itu kita   harus waspada untuk tidak mempertukarkannya. Seperti halnya dalam proses sensoris, secara umum persepsi dimulai dari melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Namun demikian dalam proses membaca cukup hanya memperhatikan kedua hal yang pertama, yakni melihat dan mendengar.

Vernon (1962) memberikan penjelasan bahwa proses perseptual dalam membaca itu terdiri atas empat bagian:
  1. kesadaran akan rangsangan visual;
  2. kesadaran akan persamaan pokok untuk mengadakan klasifikasi umum kata-kata;
  3. klasifikasi lambang-lambang visual untuk kata-kata yang ada di dalam kelas yang umum;
  4. identifikasi kata-kata yang dilakukan dengan jalan menyebutkannya.
Meskipun Vernon bermaksud memperuntukan langkah-langkah tersebut untuk visual namun dapat juga diterapkan pada persepsi auditoris. Untuk mengembangkan kemampuan membacanya anak harus pula dapat memodifikasi dan menghubungkan pengalamannya dengan stimulus-stimulus yang ada dalam konteks dan lingkungan yang sedang dilaminya. Dengan kata lain pada setiap anak haruslah terjadi semacam mediasi atau pengalihan pengalaman.

Persepsi seorang anak dalam membaca berpengaruh dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang banyak jumlahnya. Antara lain oleh kebudayaan, pengalaman, emosi, kematangan bahkan kepribadian anak  yang bersangkutan. Dengan demikian seyogyanyalah anak-anak sudah terlebih dahulu memiliki banyak pengalaman sebelum dirinya pertama kali mengenal huruf, kata dan kalimat dalam wacana. Semakin luas dan bervariasi pengalaman seorang anak akan semakin luas dan semakin terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan konsep-konsep dan memperbaiki pesepsinya.